/ POLITIK, FIKSI

Zona Aman? Omong Kosong

Paciran ❤ Lamongan

Pada masa itu seorang pembaca berita di salah satu stasiun televisi nasional, sedang mewartakan skandal sex yang melibatkan politisi kelas kakap, berita itu telah membikin heboh jagat maya dan imbasnya skandal sex yang sudah terlanjur bikin heboh itu menggelinding lancar ke pelosok desa-desa.

Warso dan Miun duduk selonjoran, mereka sedang menikmati waktu santai dan merenggangkan pikiran dan melepas penat dari beban penghidupan sehari-hari di dalam gubuk malam itu. Gubuk itu sendiri letaknya persis di depan balai dusun kampung Madali.

Mereka berkumpul seperti biasa. Di depan mata mereka melewati jalan raya ada sebuah banner besar terpasang dengan tali yang dililitkan ke batang pohon yang ada di sisi kanan dan kirinya. Banner itu sendiri tersimpul ala kadarnya, dengan tulisan besar-besar. “Jaga Kerukunan dan Saling Bertoleransi Sesama Warga.” Begitu bunyi tulisan banner tersebut, yang sengaja dibuat dan dipasang di sana oleh petugas Kerukunan Keluarga Madali.

Dua orang kampung ini pernah punya pikiran untuk merobek dan membuang banner itu, hanya saja belum kesampaian. Pikir mereka berdua, toh! tanpa ada seruan itu, orang-orang kampung sudah terbiasa rukun dan saling menghormati. Jiwa kerukunan mereka berdua merasa terbanting ambyar berkeping-keping dengan tulisan yang ada di banner itu.

Berkumpulnya kedua orang kampung itu, lima hari setelah berita skandal sex yang melibatkan salah satu politikus nasional yang oleh para pengamat politik mengatakan bahwa: berita itu sendiri sepertinya memang sengaja untuk disebarkan ke khalayak umum. Bisa jadi oleh lawan politiknya dan tidak menutup kemungkinan oleh kawan politiknya sendiri dan itu sudah hal wajar dalam dinamika politik.

“Un, Melihat situasi dan kondisi sosial yang kurang sehat akhir-akhir ini, jangan pernah berlagak atau terpikirkan olehmu untuk bikin guyonan di sosial media atau di dunia nyata terkait dengan pandangan politik.” Nasehat Warso ke sahabat karipnya itu. Sambil minum kopi.

“Lah Biasalah, Kang. Kita-kita ini cukup ada kopi, nongkrong berdua sudah tenang.” Balas Miun dengan tanpa beban.

“Loh! Situasi politik saat ini sangat-sangat berdampak ole isu-isu negatif nan provokatif.” Sahut Warso dengan cepat.

“Bukan maksud saya mengajak untuk bersikap apatis terhadap dunia perpolitikan dalam negeri, Kang. Kita tetap sadar politik namun tidak harus merespon isu yang ada dengan cuitan yang kemenyek dan gemesin.” Kata Miun kalem dan gerak jemari tangannya lihai mengambil sebatang rokok milik Warso, tanpa minta ijin lebih dulu.

bhineka tunggal ika

“Ada baiknya kita diam dan tenang.” Lanjut Miun.

“Halah, Un, Un! Abaikan segala posisi aman, mau sampean milih posisi di kanan atau di kiri sama saja, sama-sama rawan, sama-sama berisiko. Rambu-rambunya jelas sekali. ‘Jalanan licin, sering terjadi kecelakaan perdebatan.’ Jangan pula sok bijak memposisikan diri di tengah, karena yang ada sampean nanti malah bisa jadi tumbal.” Jawab Warso dengan bibir yang tak terkontrol, hingga ludahnya sesekali muncrat-muncrat.

“Sekedar saran saja, Kang. Usahakan posisi sampean agar tidak terlihat sebagai manusia… Maksudku sampean bisa ambil peran jadi hewan. Nuwun sewu loh, Kang! Sampean bisa jadi Kecoa misalnya atau jadi Ubur-Ubur.” Kata Miun dengan mengumbar deretan giginya yang kuning.

“Kalau sampean punya niatan yang cukup kuat, Aku punya saran yang lebih bagus, So! Sampean bisa mencoba untuk jadi Sendok, lalu panjatkan beberapa doa-doa itu kalau sampean bisa berdoa dan berharaplah keberuntungan langit berpihak ke sampean, barangkali saja hal itu bisa membuat dek Raisa mau jilatin kamu (baca: sendok) saat dia makan bakso, nasi goreng, pecel atau apapun yang kamu suka makan atau bayangin.” Saran dan khotbah Miun semakin menjadi-jadi.

“Sebentar, sebentar! Apa saat jadi sendok! Maksudku, apa kamu bisa menjamin atau bisa memastikan bahwa langkah itu akan membuat jalan hidup lebih bahagia.” Sergah Warso.

“Bisa hiya dan bisa juga tidak. Kalau sampean serius mau melakukan itu dengan telaten tentu saja akan lebih nyaman dan teramat nyaman dan pastinya lebih aman sentosa.” Jawab Miun dengan tersenyum-senyum sendiri.

cinta damai

Kopi di dalam gelas yang cuma satu-satunya itu tinggal ampas, sudah tandas. Tiba-tiba mereka berdua saling berpandangan lalu garuk-garuk kepala lantas kaki mereka otomatis beranjak pulang ke rumah masing-masing.

Semenjak malam itu dua sahabat karib ini jarang terdengar lagi membahas isu-isu politik. Seakan sudah membuat kesepakatan untuk mengurangi jadwal ngopi di warung kopi yang ramai orang, itu dilakukan untuk menghindari paparan radiasi aktif isu-isu politik yang beredar luar biasa masifnya.

Dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Miun masih sempat-sempatnya menggoda Warso. “Bagaimana kalau sampean membikin komunitas sendok lengkap dengan garpu dan segala macam perintilannya. Bila anggota sampean sudah cukup nekad, maksudku sudah cukup banyak, kan bisa sampean himpun dan menggerakkan komunitas untuk kegiatan judi bola di sarang warung kopi.”

“Wah, masuk juga idemu, boleh dicoba. Peluang usaha yang menjanjikan itu.” Balas Warso kegirangan.

Dua bulan kemudian Warso diciduk polisi dan kini meringkuk dalam hotel prodeo.

Hotel Kekinian

Biar kamu tahu saja, Prodeo itu artinya gratis. Penjara jaman sekarang diumpamakan hotel, sebab napi bisa mendapat fasilitas mewah dan bisa bebas beraktivitas seperti biasa. Konon kabarnya beberapa gembong bandar narkoba masih bisa menjalankan bisnisnya dibalik tebalnya tembok jeruji besi. Begitu.

dari editor: gambar-gambar via bangakrie.wordpress.com, tidak dimaksudkan untuk ilustrasi cerita fiksi ini melainkan agar kamu “terhibur” saja.

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More