Tottenham vs Liverpool: Pertandingan Final Gak Mutu!

Otto Rehhagel (Lahir di Essen, Jerman pada 9 Agustus 1938) orang tua yang membuat tim kesebelasan nasional Yunani juara piala Eropa edisi 2004 itu, lebih tahu dengan kemampuan anak asuhnya yang secara kualitas di bawah rata-rata, tapi, Ia mampu memaksimalkan kemampuan timnya, hingga negeri para dewa itu berhak meraih gelar juara kompetisi (Piala Eropa, ed) yang diselenggarakan setiap empat tahun tersebut.

Otto si orang tua yang berwajah intimidatif itu mengantarkan Yunani pulang dengan piala, meski Ia harus meracik Timnya dengan taktik yang sangat dibenci para pecinta sepakbola atraktif. Dan itu bukan dosa apabila perbuatan terlarang, dan itu malah lebih banyak mendapat pujian.

Aku tidak berniat membandingkan kualitas kepelatihan, tapi pertandingan pinal liga Champions 2019 kemarin itu bukan laga beda kelas. Ya… memang harus aku akui bahwa Tottenham Hotspur tak layak untuk menang. Tapi kita juga tahu, sejarah klise yang tercipta pada dini hari itu (02/06/2019), aromanya tak sedap. Dan piala itu dibawa Liverpool pulang dengan berurai air mata. Alih-alih terharu daya ketawa sinis ku lebih sering muncul secara alami.

Pada saat laga berlangsung. Sang jawara bermainan dengan gagap dan sering kehilangan bola, itu memang pertandingan pinal yang sangat menyebalkan. Padahal untuk lawan yang sering ketemu di liga domestik, tim kesayangan banyak orang itu bahkan masih ragu-ragu antara menyerang atau bertanya ke Man Maduwan (baca: bertahan) hanya karena bermain di babak pinal liga champion.

Keraguan demi keraguan itu menunjukkan Liverpool tanpa keyakinan, bahkan secara kemampuan masih tak percaya dengan kemampuan sendiri. Main yang serba kedodoran, dan selebihnya cukup beruntung karena dapat jatah berkah bulan Ramadhan (baca: hadiah penalti).

Di saat yang sama, si lawan yang dihadapi tampil kurang greget, aksi-aksinya masih tipikal khas tim-tim labil di liga Inggris. Maksudku Tottenham Hotspur lebih seperti sekumpulan pemain lapis kedua Barca atau Madrid yang dipaksa untuk tampil megah di pinal liga champion. Ini pinal yang sangat tidak menarik bagiku, tapi tidak bagi para Bandar. Aku rasa mereka lebih banyak ketawa sekarang.

sabung ayam

Sungguh keterlaluan sekali panitia UEFA Champions league itu karena menyetujui Tottenham Hotspur sebagai lawannya Liverpool di pinal. Seharusnya ada seruan aksi berjilid-jilid untuk menolak kemenangan Tottenham Hotspur atas Ajax Amsterdam pada babak semifinal. Minimal Liverpool punya lawan yang sepadan di laga pamungkas.

Pertandingan yang dihelat di Wanda Metropolitano di Madrid, Spanyol itu ditonton 63.272 pasang mata yang hadir di stadion, mempertemukan dua perwakilan dari Inggris. Liverpool memenangkan pertandingan pinal dengan skor 2–0 dan meraih gelar juara Liga Champions yang keenam.

Sebagai wasit untuk pertandingan final, UEFA menunjuk Damir Skomina dari Slovenia. Pertandingan ini juga merupakan pertandingan babak final pertama yang menggunakan sistem asisten wasit video (video assistant referee, VAR).

Menjadi finalis kedelapan dari Inggris, Tottenham Hotspur mencapai babak final Liga Champions untuk pertama kali. Tim yang mampu menguasai bola sebanyak 61% di babak pinal. 8 tendangan ke arah gawang, dengan total 16 tendangan yang mematikan.

Sementara Liverpool mencapai babak final untuk kali kedua secara beruntun dan kali kesembilan secara keseluruhan (rekor mentereng untuk tim dari Inggris). Dan sang juara itu hanya mampu menguasai bola tak lebih dari 39%. Dan Alisson si penjaga gawang Liverpool itu melakukan aksi penyelamatan sebanyak 8 kali.

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More