/ CERPEN, FIKSI

Cerpen: Tamu Tak Tahu Malu

Paciran ❤ Lamongan

Hari ini aku begitu bersemangat karena akan bertemu dengan koh Acoi, sudah menjadi kebiasaan kami berdua untuk saling bercengkrama, bertukar pikiran tentang segala hal, lebih dari itu ada sesuatu yang lebih penting, ada beberapa kegundahan hati yang ingin aku tanyakan langsung padanya, sore ini.

Siang itu, Aku berangkat dengan naik sepeda, pinjam teman satu kost dengan suasana hati yang riang, aku kayu sepeda dengan berdendang dawai lagu asmara.

Samar-samar ku dendangkan lagu dengan mendayu-dayu, tanpa terasa tinggal dua pertigaan lagi untuk sampai di rumahnya koh Acoi.

Laju ban sepeda makin kencang, menggilas tuntas jalanan tanpa permisi. Kini aku sudah sampai di depan rumahnya koh Acoi. Tampak koh Acoi sudah menungguku di teras rumahnya.

Dia menyambutku dengan senyuman khasnya yang meneduhkan hati, menciutkan nyali roda sepeda yang aku tumpangi untuk terus melaju. Langkah kaki bergegas menghampiri, lalu dia berdiri memberi salam, dengan gerakan punggung sedikit membungkuk badan, sesaat seluruh wajahnya ditelan oleh penampakan rambutnya sendiri.

“Duh! Gusti mengapa KAU merestui manusia mempunyai adat budaya memberi salam kepada sesamanya dengan cara seperti burung sedang minum, bukankah dengan senyumannya, aku sudah sangat berterima kasih.” Batinku Mengeluh dalam hati.

Aku membalas salamnya dengan cara yang sama. Gerakan salam dan sikapku persis seperti burung sedang minum. Selesai dari membungkuknya dengan tersenyum dia mempersilahkan tamunya duduk dan sedetik kemudian tangan koh Acoi cekatan menuangkan teh pada cangkir mungil bermotif bambu.

Masih sambil tersenyum sang tuan rumah menawariku untuk minum bersama, Aku pegang cangkir mungil itu dengan sepuluh jari- jari tanganku, tentu saja dengan gerakan khas punggung membungkuk sejenak.

Walaupun begitu aku masih sering terlambat melakukan ritual membungkukkan punggung sepersekian detik dari yang koh Acoi contohkan padaku. Cangkir mungil yang berisi teh hangat itu merapat mulus dibibirku, seduhan air daun-daun mudah ini mengikis dahaga, aroma harumnya sampai memejamkan mata, melibas semua kekesalanku terhadap ritual hormat menghormati sebelumnya.

Traditional Chinese Madarin Dress

Dalam hatiku bertanya. “Apakah minuman yang begitu nikmat ini, karena ritual tadi? ah! lalu kenapa aku tadi menggerutu dalam hati, bahkan sampai mengeluh ‘Oh,Gusti.’ Mungkin aku yang terlalu ceroboh.” Guman batinku geli.

Lamat-lamat, terdengar suara khasnya membelah jalan cerita dalam lamunanku

“Ai, ai, bagaimana oe orang punya kaba?”

“Lumayan baik, koh.”

“Oe tampaknya kurang sehat, wajah oe pucat ada apa?”

“Biasa, ini hanya kurang tidur saja, koh.”

“Ada persoalan apa? Sampai oe kurang tidur.”

Badanku mendadak kaku, mulutku terkunci, bibirku terdiam belum mampu memainkan lidah.

“Kenapa oe diam, ceritakan saja.”

Lagi-lagi sumber suara koh Acoi membuyarkan pertapaan sunyiku, sorot tajam matanya terfokus kepada dua bola mataku, aku merasa lagaknya sudah seperti jaksa, dan tatapan matanya itu semakin mendesakku. Mencoba terbangun dari kutukan, bibirku mulai membuka suara.

“Koh, apa aku ini salah, kalau suka sama perempuan yang lebih dari aku dalam segala hal, dan hiya, memang aku sendiri punya pikiran untuk mendapatkan perempuan yang seperti itu?”

“Apa oe cinta betul-betul sama perempuan itu?”

“Dengan segenap jiwa dan sepenuh hati, koh.”

“Apa oe bisa terima dia, ini seandainya loh ya! Bisa saja dia tidak lebih dari apa yang oe orang perkirakan.”

“Dia itu koh! lebih dari aku dalam segala-segalanya. Aku merasa, maksudku perasaanku merasa dia itu cinta sejatiku, bidadari hatiku, tak dapat aku temukan padanya ada pada perempuan lain! Dialah pujaan yang selalu terbayang-bayang dalam mimpiku.”

“Aku percaya dengan apa yang oe katakan, dengarkan kata hatimu dengan seksama. Jangan terburu-buru dulu.”

Garis-garis wajahnya mengeras, dia tak lagi bersandar pada kursi rotan dengan motif rajut sulam, punggungnya mengambil posisi duduk yang tegak, aku pun hendak menyimak petuahnya dengan serius.

“Manusia terlalu angkuh! menganggap cinta begitu suci, hingga merasa tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, seakan-akan cinta itu kalimat surga. Jelaslah kini, mengapa nenek moyang dulu, membuat dongeng “Jaka Tarub” dan berharap pada kesucian bidadari dan dengan curang pula ingin cinta surga, ambisi dan ingin menang sendiri, sampai-sampai punya niat agar bidadari tercipta hanya untuk dirinya.”

Aku masih tertegun mendengar bualan koh Acoi, suara yang keluar dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah terdengar jelas, setelah menguasai diri. Kini dia hisap dalam-dalam lintingan asap kejenuhan di jemari tangan dengan mantap!, dan telapak tanganku menghalau kepulan asap nikotin itu, dan asap-asap itu seakan tambah gesit menari-menari riang di ujung lubang hidung.

Kue kering tertata rapi di dalam toples kaca, bersanding mesra dengan cangkir mungil, keduanya bertumpu pada meja yang memisahkan duduk kami berdua. Makanan kering dalam toples menggoda lidah ini untuk merasakan, ada keinginan lidah ini untuk menyerah pasrah pada rasa nikmatnya. Namun segera aku urungkan niat itu. Kembali aku bertanya pada koh Acoi.

“Apakah koh Acoi pernah merasakan cinta sejati, di sepanjang usia yang pernah koh lewati?”

Koh Acoi memandangku dengan tatapan mengernyitkan dahinya, tampak sedikit keheranan, jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja, memainkan bahasa isyarat yang aku sendiri tak tahu apa maknanya. Dengan mendorong kepalanya lebih dekat denganku dia memohon padaku untuk mengulangi pertanyaanku kembali, serasa mengiba untuk diperjelas ulang.

“Apakah koh Acoi pernah merasakan cinta sejati, di sepanjang usia yang pernah koh lewati? Maksudku, koh bener-bener memperjuangkannya, tanpa memanfaatkan kelemahan perasaan cinta itu sendiri?”

“Baiklah begini kiranya, aku hidup dengan manusia, bercengkrama dengan alamnya. Apalah arti cinta dengan segala belenggu putihnya, kesuciannya. Anak muda hidup bukan hanya untuk bermain hati saja. Ada jiwa-jiwa yang tidak akan penuh dengan kasih abadi itu. Kau perlu ketahui itu.”

Kong Guan

Aku masih tak memahami dengan apa yang dimaksudkan oleh akal pikirannya, mungkin saja koh Acoi juga tidak paham dengan pertanyaanku, tanpa ingin menyinggung kedalaman hatinya, aku pun coba mengalihkan pembicaraan ke hal lain,  suara gebukan keras dari dalam rumah menggoda pikiranku untuk bertanya.

“Suara apa itu, sepertinya suara tadi dari dalam rumah, koh?”

“Itu Ah Cy, sedang memukul-memukul kasur yang dijemur di halaman belakang rumah. Mumpung matahari bermurah cahaya hari ini.”

Ah Cy jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah indah. Anak gadis terkecil koh Acoi itu sifatnya sangat pemalu dan pendiam. Aku menduga sikapnya agak menjaga jarak dengan pribumi, meskipun koh Acoi sudah menanamkan padanya untuk berbaur dengan anak-anak gadis pribumi, namun dia lebih memilih dunianya sendiri.

Keluarga koh Acoi tetap memakai nama etnisnya, saat memberikan nama kepada anak-anaknya, meskipun pemerintah menyarankan untuk menggunakan nama yang sudah sesuai dengan budaya Indonesia.

Kue kering yang tertata rapi di dalam toples bening itu masih menggodaku, kali ini lidahku sudah tak bisa menahan, dengan memasang muka tersenyum malu dan segudang sikap salah tingkah, aku memohon dengan hormat pada koh Acoi untuk merasakan nikmat kue buatan keluarga tersebut.

“Silakan dinikmati, ndak usah sungkan-sungkan dan jangan malu-malu. Anggaplah ini di rumah sendiri.”

“Mari koh.” Ucapku pada koh Acoi, setelah lebih dulu jemari tangan ini membuka tutup toples dan mengambil kue kering yang ada di dalamnya.

Rasa kue kering buatan keluarga koh Acoi membikin liurku menetes tak tertahan, sambil tersenyum malu, mulut lancang ini kembali menggigit kue itu lebih pelan, alibi itu aku lakukan demi menyembunyikan kobaran nafsu indera pengecap dalam mulut.

“Enak sekali koh kue ini, buatan siapa? beruntung sekali bisa merasakan nikmat kue ini setiap hari.”

“Buatan tangan istri tercinta. Kalau kamu tak punya malu hari ini, dibungkus saja. Nanti juga aku bantuin kamu bungkusin kuenya.”

“Mulia sekali, eh tapi terima kasih loh, koh.”

Tanpa ada rasa sedikitpun untuk menolak tawaran baik darinya, aku sengaja menghilangkan rasa malu jika bertandang ke rumah koh Acoi.

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More