/ ROMANSA, PESISIR

Lasak - Sambel Kelopo, Gorengan Iwak Dodok

Paciran ❤ Lamongan

Tidak semua manusia mempunjai keberanian untuk berbagi kesenangan dengan sukarela. Salah satunja adalah berbagi senjum, salah duanja adalah berbagi foto makanan. Mungkin karena chawatir dianggap pamer. Padahal aksi sosial jang mingsih termasuk dalam kategori amal ibadah ini bisa mendatangkan pundi² pahala jang berlipat ganda. (Bisa masuk partai ganda tjampuran atawa melipat gandakan uwang).

Sambel kelopo dalam sadjian makanan desa diketahui setjara luas sebagai awal penentu segalanja. Sedangkan lauk ikan Dodok gorengan bisa dikatakan sebaliknja: pada achirnja lauklah jang menentukan segalanja. Kita bisa berdebat ber-busa² untuk segala perbedaan terkait makanan rumahan ini. Lagipula perbedaan sudut pandang itu wadjar-wadjar sadja. Pok gelutan sak karepmu, Aku ora melu².

Nilai Gizi

Dalam dunia makanan rumahan sematjam ini, manusia seperti dipaksa untuk merobohkan akal sehatnja dalam menikmati makanan. Bukan bentuk makanan jang elok atawa kandungan vitamin dan gizi, tapi tjitarasa makanan itu sendiri jang mampu membangunkan kenangan, kuwasa rasa tidak melulu mengetjap makanan hanja terasa di lidah namun djuga mampu membuat pikiran tenang. Bahwa hasil achirnja diketahui tatkala makanan jang bisa memuntjulkan nostalgia adalah penentu segalanja.

Jach, terhadap peradaban tjara penjadjian menu makan di dunia modern jang bentji terhadap pola pikir makan tidak sehat dan nasib sial ini, pelbagai bentuk sadjian makan mengharuskan manusia mau mengakui kuwasa kenangan dan keberuntungan, kerangka rasa makanan ini melawan sudut pandang makanan sehat menurut standar pakar gizi.

resensi dari pasir pantai berwarna abu-abu (lasak)

Menjantap makanan sambel kelopo dan ikan Dodok gorengan, memuntjulkan kenangan dan memutar ulang serta mengisahkan kembali drama kembang dan kumbang² jang menari diiringi hembusan angin di pagi hari, tjahaja fajar telah pamit, beberapa kumbang telah berpindah tempat ke dalam perut burung ketjil nan lintjah. Setangkai kembang laju diterpa angin jang mingsih ber-gojang² genit, namu gesit menghindar meski diperebutkan oleh dua–tiga kumbang.

Esensi “Lasak”

Nukilan kisah kembang dan kumbang di atas hanjalah fiksi belaka. Hikajat sebetulnja jakni kisah anak ketjil jang berlari riang di pasir pantai jang tidak berwarna putih, lebih tepatnja abu². Puas berlarian, ganti bermain dengan media pasir, djemari tangannja jang mungil membentuk pasir mendjadi gundukan gunung, bentuk gunungnja sendiri lebih mirip tahi orang mencret. Puas membuat gundukan gunung, daja imadjinasinja kini ingin membentuk pasir semirip batu Tandjung Kodok.

Dimana teknik untuk membentuknja harus memanfaatken kedua paha dan tentu sadja titit si botjah, hal itu untuk memenuhi sjarat kemiripan dengan aslinja, saat pasir sudah mengering barulah si botjah berdiri pelan². Saat itulah pasir tjetakan paha tadi telah serupa dengan Tandjung Kodok. Untuk mendjalankan aksi permainan ini perlu diperhatikan dengan seksama dalam memilih pasir sebab kalaw tidak berlaku hati² dalam memilih pasir titit si botjah bisa kena tjapit kepiting ketjil. Sebetulnja sakitnja hanja sebentar, tapi kenangannja terngiang hingga saat ini.

Simpulan

Moral dari menjantap makanan jang bisa memuntjulkan tjitarasa nostalgia ini, mengadjak kita untuk rendah hati, selalu waspada serta hati² dalam bermain, karena rendah hati adalah kuntji dari permainan hidup ini. Sembari mengenang kembali masa lalu. Mari makan Tuan dan njonja.

Salam.

editor: jon mukidi

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More