/ ROMANSA

Resensi Tjinta: Dimensi Kehilangan

Paciran ❤ Lamongan

Hampir setiap bunga apapun jang hidup atawa segala sesuatu jang kau anggap hidup pada akhirnja akan hilang hakekat kehidupannja ~alias telar dunjo~. Begitu djuga dimensi alam perasaan jang kau rasakan dengan segala matjam ungkapan jang kau muliakan dan kau agung-agungkan. Pada suatu waktu rasa kenikmatan itu akan berangsur-angsur hilang, itu kenistjajaan kawan, meskipun sulit kau akui.

Dimensi alam pikiran memikat dirinja untuk lebih djauh masuk ke dalam pemahaman tanpa batas si pemilik tubuh. Pembelajaran dimensi alam pikiran membuat akal memilah antara harapan jang sangat diidamkan terkadang berbeda dengan kenjataan, serta ada banjak kebutuhan pikiran jang tidak sesuai dengan kenjamanan diri, meski batin lebih sering menolak suratan jalan hidup. Perasaan ini lebih umum di sebut egois. Keinginan mendjadikan perasaan diri lebih memilih sesuatu pilihan jang terdjadi haruslah sesuai dengan kebutuhan dan kenjamanan pribadi.

Tjontoh jang paling dekat dengan perasaan egois adalah saat kau sedang dimabuk asmara, bahasa standarnja “Djatuh tjinta”. Djika kau belum pernah djatuh tjinta, sebaiknja kau tjepat-tjepat melakukannja. Bila kau menjadari ini lebih tjondong kepadamu untuk bersikap reaktif, jach terima sadja. ~Ketahuilah, narasi ini memang provokatif.~

Dalam upaja mentjintai tidak djadi soal apakah tjintamu berbalas atawa tidak, itu perkara sepele sahadja. Ada sesuatu jang harus kau sadari sedini mungkin saat kau sedang djatuh tjinta, apapun jang kau rasakan bila kenjataan tak sesuai dengan jang kau harapkan, maka dengan sendirinja akal pikiran kau akan reaktif untuk terus berusaha dengan mengerahkan segenap djiwa dan raga agar mendapat djaminan harapan jang sesuai dengan dimensi alam pikiranmu.

Sementara pendapat suara umum akan menganggap kau egois, mereka akan tidak sudi memudji dan memudja kau sebagai pedjuang tjinta sedjati.

Lebih sial lagi kau akan dianggap sebagai pribadi jang tidak mampu membedakan kenjataan dan angan-angan.

Padahal sikap egois untuk melantjarkan tudjuan keberhasilan asmara akan terasa sangat mengerikan, bagi jang ditjintai. Namun perlu sampean semua ketahui. Horor jang terbungkus dengan tjinta memang lebih mulia, tentu sadja itu bagi orang jang setengah tidak sadar kalau dirinja sedang teler telenovela.

“Pelari jang handal tidak berdjalan kaki saat berlomba.” Guman batin agar selalu mengupajakan dengan seksama bila harapan belum djuga ada tanda-tanda kemuntjulannja. Selama akal pikiranmu masih bisa kau pakai dengan normal, manfaat dengan baik.

Pikun, lumpuh dan Kematian hanjalah perkiraan waktu jang tak perlu kau perkirakan ulang. Ada hal lebih menakutkan dari keduanja, yakni saat kau benar-benar kehilangan perasaan tjinta itu sendiri. Saat kau benar-benar kehilangan rasa itu semua-semua jang tampak atawa tidak tampak akan terasa hampa.

Salam.

editor: jon mukidi

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More