/ ROMANSA, BULAN BUWUH

Nestapa Perjaka di Bulan Buwuh

Paciran ❤ Lamongan

Malam minggu kemarin lusa, seharusnya berjalan seperti malam-malam yang lain. Tak ada yang bisa dianggap istimewa, hanya ada ponsel cerdas yang miring, ditemani kopi, rokok, yang sialnya adalah hasil hutangan. Walaupun demikian, toh tetap harus disyukuri, bahwa masih ada warung yang boleh di-utangi.

Sungguh, ini adalah berkah luar bisa dari Sang Maha Pemurah. Serius iki mat! Pok bayangno toh: tidak punya kerjaan tetap, duwit hanya tersisa 4 ribu rupiah yang dipersiapkan untuk berjaga-jaga jika ada kejadian ban bocor. Yang artinya, masih harus berjalan ke rumah teman terdekat untuk mencari hutangan jika benar-benar terjadi. Bukankah itu sebuah kenikmatan yang tiada tara? Berhutang kopi di warung kopi sekaligus sebungkus rokok kuli. Istimewa nian..

Betapa kasih Tuhan itu tiada berbatas. Sebagai perjaka yang tidak sepenuhnya perjaka, kenikmatan dari oleh ngutang di warung langganan adalah bentuk ke-tidak-egois-an-Nya. Masih mau meberi ‘wahyu’ (maaf, saia tidak suka kata ‘wangsit’) kepada pemilik warung kopi untuk bersedia ngutangi saya. Awas, jangan sampai tertukar dengan ngotangi, karena makna yang nampak sangatlah berbahaya bagi perjaka yang benar-benar perjaka.

Bulan Buwuh

Sayangnya, nuansa ceria nan indah ini kemudian rusak oleh dering pemberitahuan aplikasi We-A dari nomor yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Ingat! Nomornya saja. Seketika, reaksi dan nalar terasa lebih lambat diri biasanya. Silahkan dipantau dari nukilan tangkapan layar berikut:

Chat WA Biadab

Raelok temenan cuuwwah.. Ternyata saia melupakan hal teramat penting. Keringat dingin pun bercucuran…

Bergegas meninggalkan bangku yang sedianya ingin kududuki sampai subuh menjelang, pulang. Saia bongkar itu laci-laci meja, tas-tas, kantong kemeja, kantong celana, kantong menyan (ups), barangkali ada seselip sepuluh ribuan yang rela menampakkan diri demi acara kondangan besok siangnya. Sejam kemudian, menyerah. Lunglai dalam diam sembari menatap chat biadab yang belum terselesaikan solusinya itu, hingga hampir tertidur. Nikah di Paciran Untung ada denting pemberitahuan baru yang membangunkan untuk segera ke warung kopi lagi. Ah.. setidaknya ada yang bersedia memberi teh anget gratis untuk menghangatkan kembali suhu tubuh yang sempat membeku gegara tersiram keringat dingin.

Piker keri, yang penting bisa ayem di warung kopi.

Berangkat kembali ke warung kopi dengan tetap memegang erat 2 lembar 2 ribuan. Jangan sampai hilang. Bisa batal menikmati teh hangat gratis sekaligus resiko pekohe sikel nuntun sepeda montor.

Lirih berucap: “Bismillahirrohmanirrohim, semoga tak ada lagi nestapa tambahan di malam minggu ini ya Tuhan Semesta Alam. Amin ya Robbal ‘alamiiin….”

mukidi

Jon Mukidi

GaPenting, buronan para penagih hutang, reskrim, camer, hingga homo keparat yg keponya kebangetan.

Read More