/ ROMANSA, RELIGI

Desa Paciran, Negeri Seribu Surau

Paciran ❤ Lamongan

Berjarak -+50 KM dari pusat kabupaten Kota Lamongan, Paciran merupakan salah satu desa yang menjadi icon kabupaten Lamongan. Desa kecil yang penuh sahaja dengan akar keagamaan yang terkenal begitu kuat karena menjadi kecamatan dengan basis pesantren tersubur di kabupaten Lamongan (dengan bertumbuhnya pondok pesantren yang terus bermunculan_red).

Jauh sebelum hingar-bingar pariwisata di kawasan Paciran menggema, Paciran bisa jadi merupakan kawasan paling religi di kabupaten Lamongan. Hampir setiap desa di kecamatan Paciran memiliki pondok pesantren, dan yang paling mengagumkan adalah desa Paciran itu sendiri. Karena dalam satu desa Paciran saja terdapat 7 pondok pesantren dengan aneka ragam basis massanya yang kebanyakan adalah santri yang berasal dari luar kabupaten lamongan bahkan luar pulau jawa.
Kecamatan Paciran juga mempunyai peran penting dalam penentuan bulan ramadhan dan hari raya idul fitri dengan adanya menara yang merupakan salah satu tempat dimana proses melihat hilal dilaksanakan setiap tahunnya hingga saat ini.

Menara pantau yang saat ini berada di dalam kawasan Tanjung Kodok Beach Resort ini dulunya menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang menyambangi Tanjung kodok, destinasi wisata rakyat yang pada kala itu menjadi satu-satunya hiburan warga dengan ekonomi menengah ke bawah yang kemudian disulap menjadi hak eksklusif wisatawan dengan kantong tebal penghuni-penghuni Hotel di Tanjung Kodok Beach Resort.

Menyambangi Paciran dengan segala religiusitasnya mungkin akan banyak membelalakkan mata kita, hampir di setiap RT di desa Paciran memiliki musholla-nya sendiri dan beberapa RW juga memiliki masjid sendiri disamping ‘Masjid Agung Paciran’ (kalo boleh disebut sih..) atau masjid jami’ At-Taqwa Paciran yang sekarang sedang melaksanakan mega proyek pemugaran untuk mendapatkan ‘view’ yang lebih mantesi (lebih pantas_red), sehingga untuk urusan akses beribadah bagi umat Islam menjadi sangatlah mudah di Paciran.

kultur religiusitas itu sudah banyak berkurang dan perlahan melemah

Hal ini juga-lah yang menjadi tren positif dimana ketika waktu shalat telah tiba, bersahut-sahutan muadzin menggemakan adzan dan iqamah ke seantero Paciran, menyegarkan pendengaran dan hati siapa saja yang saat itu berada di desa Paciran.

Sedikit muluk tapi mengena membuat saya memberikan caption di atas, yaahh….!! Negeri Seribu Surau, untuk Paciran-ku, desa dengan ribuan kenangan. Walaupun kultur religiusitas itu sudah banyak berkurang dan perlahan melemah seiring mudahnya informasi dan budaya yang mudah disajikan dan dinikmati banyak kalangan sehingga cenderung ‘mempengaruhi’, tetapi masihlah banyak terlihat dipertahankan disana-sini dengan bertumbuhnya pesantren yang terus muncul dan tentu saja semoga bisa kembali mengerakkan religiusitas generasi-generasi selanjutnya di kecamatan Paciran.

itmam

It Mam

Hitam dengan kungkungan putih bersama cahaya yang mengiringi bentuk yang melingkar tapi terputus-putus di setiap bagian

Read More