/ KULINER, BUDAYA

Legen Paciran yang Kian Diburu Wisatawan

Paciran ❤ Lamongan

Légen adalah salah satu nama minuman tradisional yang yang diambil dari bagian pohon siwalan atau biasa disebut dengan istilah cematan oleh masyarakat Paciran. Diakui atau tidak seiring dengan pesatnya perkembangan pariwisata di kawasan Paciran turut meroketkan minuman tradisional ini menjadi salah satu icon kuliner dari desa Paciran Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan dan menjadi buruan utama wisatawan. Meskipun ternyata bukan hanya kawasan Paciran saja yang menjadi habitat tumbuh kembang dari tanaman pohon siwalan ini, karena hampir di sepanjang pantura sekitar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia. Kita bisa menemukan banyak sekali pohon ini tumbuh, mengingat pohon yang masuk kategori palem-paleman ini memang sangatlah cocok di kawasan tropis seperti sepanjang jalan pantura ini

Kota-kota lain yang juga menjadi habitat pohon siwalan dan menghasilkan minuman Légen ini antara lain adalah : Kebumen, Wonosobo, Purworejo, Pati, Rembang, Tuban dan Gresik. Sayangnya pada kisaran tahun 1990-an di daerah Pati dan Rembang minuman ini sudah mulai sulit ditemukan, karena pohon siwalan di daerah ini banyak ditebang oleh penduduk setempat untuk dijual sebagai bahan bakar untuk membakar batu kapur dan juga sebagai salah satu alternatif pengganti kayu pada bangunan di daerah sana.

Kata Légen sendiri berasal dari kata dasar legi (bahasa Jawa) yang artinya manis. Karena pada dasarnya memang minuman ini akan berasa sangat manis dan segar bila diminum ketika baru disadap dari pohonnya langsung 1. Mungkin inilah yang menjadi dasar kata Légen yang diambil dari kata leLégen atau pemanis Légen dihasilkan dari penyadapan bunga pohon Siwalan atau yang biasa kita (masyarakat Paciran) sebut ‘cematan’ jenis perempuan yang bunganya berbentuk sulur. Sulur bunga ini dipotong sedikit demi sedikit untuk disadap getahnya yang ditampung pada sebuah tabung yang biasanya terbuat dari potongan batang bambu satu ruas yang dikenal dengan nama ‘Bhétek’. Lama penyadapan ini biasanya semalaman atau sekitar 12 jam. Pada sore hari Bhétek ini diletakkan sebagai penampung, maka pada pagi harinya sudah memuat penuh satu tabung.

Cematan: Pohon Siwalan

Satu pohon Siwalan rata-rata dapat menghasilkan sekitar enam liter Air Légen, tetapi itu pun tergantung cuaca, mengingat deras tidaknya yang dihasilkan dari penyadapan tersebut tidak selalu sama setiap waktunya. Apalagi jika musim penghujan, disamping produktifitas dari pohon akan menurun biasanya rasa dari Légen pun akan berkurang kesegarannya karena sedikit banyak akan tercampur air hujan. Pada saat pengambilan dan pemasangan béthek ke pohon biasanya, pada dasar béthek ditaburi sedikit air kapur Untuk mengurangi rasa asam yang dihasilkan oleh air Légen dari pohonnya.

Dalam beberapa kali percobaan pencarian, penulis belum dapat menemukan jurnal ilmiah khusus yang secara spesifik membahas tentang kandungan yang ada pada Air Légen daerah Paciran, tetapi secara umum banyak artikel-artikel yang membahas tentang kandungan-kandungan yang ada di dalam Air Légen. Seperti yang penulis dapatkan dari imedis.net dikatakan bahwa Air Légen mengandung cairan isotonis yang sanggup menggantikan keluarnya cairan tubuh melalui keringat. Menurut para ahli gizi dan pangan, Air Légen yang manis itu ternyata mampu Memperbaiki Fungsi Ginjal, Mengatasi Gejala Impotensi dan Meningkatkan Produksi Sperma.

Tetapi sayangnya Air Légen ini hanya punya waktu yang cukup singkat dalam mempertahankan rasa manisnya, karena dalam hitungan beberapa jam saja Air Légen akan mengalami proses fermentasi akibat aktivitas mikroba tertentu jika dibiarkan begitu saja. Proses penyimpanan yang tepat seperti langsung menyimpannya dalam lemari pendingin minimal akan menghambat proses fermentasinya, tapi itu pun juga tidak akan lama. Setelah lebih dari 2 hari Air Légen akan mengandung alkohol dan menjadi sangat memabukkan yang kemudian dikenal dengan nama “tuak”.

Bagi yang pernah menginjakkan kaki di kawasan Paciran pastilah pesona Légen adalah salah satu yang akan selalu membekas dan melambai untuk membuat anda kembali lagi. Sedangkan bagi yang belum pernah mungkin seteguk dua teguk Légen akan membawa kepada sensasi yang membuat anda tidak pernah akan berhenti menuang kembali ke gelas yang telah anda kosongkan. Apalagi Minuman inin yang menjadi pelepas dahaga setelah seharian berwisata ke Wisata Bahari Lamongan, Maharani Zoo & Goa, Pantai Lorena, dan beberapa destinasi wisata lain dikecamatan Paciran.

Atau kalau Anda sedang melintas dari arah Tuban ke Surabaya atau sebaliknya lewat jalur pantura, Anda bisa sekedar melepas lelah dan mencicipi minuman tradisional ini sambil bersantai di warung-warung gubuk sederhana sepanjang KM 74 dari arah Surabaya di kawasan desa paciran. Sambil menikmati segelas Légen lidah anda juga akan dimanjakan dengan jajanan khas paciran lainnya seperti jumbrek, Buah ental (siwalan), Rujak Khas Pantura Paciran dan jajanan-jajanan khas Paciran lainnya.

editor: jon mukidi

itmam

It Mam

Hitam dengan kungkungan putih bersama cahaya yang mengiringi bentuk yang melingkar tapi terputus-putus di setiap bagian

Read More