/ POLITIK, INDONESIA

Ketika Angka Bisa Saling Baku Hantam

Paciran ❤ Lamongan

Suasana alam kemerdekaan republik Indonesia dalam beberapa bulan kedepan akan lebih sering di isi dengan gegap gembita gelaran pesta demokrasi. Kita² ini peduli atawa tidak peduli dengan tingkah polah para badut² politikus tersebut tetap sadja dampak negatifnja akan datang djuga menghampiri ke ruang hidup kita², walaupun tanpa kita undang sekalipun. Terimo nasip, apes to!

Seperti kita ketahui bersama bahwa akibat dari gelaran pesta demokrasi terkadang sangat tidak sesuai dengan asas dasar demokrasi itu sendiri, sialnja imbas dari pemilihan pemimpin itu sendiri sering kali harus ditebus dengan perpetjahan antar tetangga, kawan atawa saudara.

Dampak dari perselisihan tersebut kadang hanja dianggap normal dan biasa sadja bagi para politisi. “kedjadian seperti itu sudah biasa, lagipula itu bagian dari strategi pemenangan.” Begitu jang biasa dikatakan para politisi saat memberikan keterangan kepada para pentjari warta. Kurang badjingan apalagi hajo…

Djika dalam beberapa bulan terachir ini dampak pesta demokrasi itu sendiri belum tampak melebar djauh dari dimensinja, jakni isu² sosial, moral, teritorial dan isi perut, tentu sadja. Maka dalam beberapa bulan kedepan isyu politik di negeri ini akan melebarkan sajapnja lebih djauh lagi. Barangkali kawan² sudah tahu kalau penetapan nomor urut bakal tjalon pemimpin di negeri ini bisa didjadikan sebagai alat perang untuk saling baku hantam.

Angka Keramat: Satu dan Dua

Djadi tulisan ini sekaligus sebagai himbauan kepada kawan² semua agar lebih ber-hati² sangat melakukan aktifitas jang berkaitan dengan penjebutan angka 1 dan 2. Sebisa mungkin gunakan angka jang lain.

Misalnja sadja saat sampean pesan minuman di kedai kopi dengan santainja, “Kopi satu, bang.” chawatirku sampean nanti akan dianggap pendukung nomor urut satu. Gak njaman banget kan, atawa saat sampean pesan nasi goreng di kedai warung makan. “Bungkus nasi goreng dua, bang.” Tiba² abang pemilik warung njeletuk begini. “Pendukung nomor dua ja mas.” Suasana mendadak garing dan tidak tentram lagi.

Melihat kondisi dan situasi perpolitikan ke depan jang sulit diprediksi sebaiknja kawan² mentjari angka lain agar tidak terdjadi salah duga dan salah sangkah. Mentjegah tentu lebih baik daripada tumbuh bibit² dongkol dalam hati. Saranku lebih baik bikin kopi di rumah sadja, selain mengirit biaja pengeluaran ngopi djuga lebih aman dan menentramkan.

Salam.

editor: jon mukidi

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More