/ PSIKOLOGI, ROMANSA

Kangen Djuga Kadang Redup, Lur

Paciran ❤ Lamongan

Sekiranja bisa dituliskan dengan baik dan indah ingin rasanja aku menuliskan seperti jang kalian harap2kan, sungguh menjesal sekali aku tak mampu memenuhi impian dan harapan kalian, tapi ketahuilah kedalaman hati sedang katjau, perasaanku tjatjat. Bahkan saat menuliskan ini mingsih terbesit di angan untuk melempar laptop, padahal sedjatinja laptop itu sendiri buat nulis kisah ini. Kau boleh tak pertjaja, bahkan djika kau pertjaja, aku kira kita sedang dalam kondisi jang hampir sama.

Bisa djadi djuga tak sama, Aku hanja mengira kondisi kita sama, kalau kau tak sudi aku samakan dengan nasipku dan kini mulai meradang. Aku beri kau kesempatan untuk menghantamku. Itu djika kau ingin menindjuku dengan kepal tanganmu, aku siap menjerah pasrah. Tentu sadja tak akan aku balas, sumpah. Aku malah berharap kau mau melakukannja. Kau bisa melakukannja ber-kali2 sampai kau bosan, aku menawarkan kesempatan ini barangkali sadja kau memang benar2 berniat melakukannja.

Suwasana saat itu sinar rembulan tak nampak di keremangan malam, tidak seperti biasa aku memang tak berniat mentjari wujudnja. Barangkali sadja wudjud hadirnja terhalang dinding rumah2 warga. Aku sudah tak ambil peduli, lagipula aku berada di dalam rumah. Minggu (09/09/2018) kondisi langit tjukup berbintang, aku mengintip angkasa di balik tjendela. Semua orang berharap pada belaian genit angin malam, maklum sadja malam itu suhunja panas sekali, seluruh tubuh serasa gerah. Sementara tak ada niat dalam hati untuk melakukan ritual purba jang berwudjud mandi, lagipula untuk apa malam2 mandi seperti orang kehilangan akal sehat sadja. Bahkan sekiranja djika tidak terpaksa sekalipun, maksudku karena ingin buwang air ketjil, tak ingin rasanja menghampiri kamar mandi malam2. Terketjuali karena perut mules akibat diare. Itu lain soal, sebab kita semua tahu ritual busuk tersebut tak bisa di-tunda2.

sebotol minuman sebungkus rokok kuli

Bila kau merasakan ada ketololan bertjampur kedjenuhan jang ganjil, terkait apa jang sudah aku tuliskan. kau tak salah duga, aku harus mengakui kalau terkaan kalian benar adanja. Kadangkala aku tak bisa memahami ketika mingsih ada beberapa orang mengangap aku baik2 sadja. Aku men-duga2 orang jang mengangap aku baik2 sadja itulah jang se-benar2nja dalam kondisi lebih membutuhkan pertolongan darurat. Djika kau tak pertjaja, tjoba tempelkan tanganmu ke dahi orang2 tersebut. Mungkin kini kepalamu pening, kau mulai merasa kesusahan dan terlebih merasa kesulitan mentjari orang2 jang aku maksud.

Baiklah ada baiknja aku kemukakan tjiri2 orang jang aku maksud. Pertama: Tjarilah orang jang berdjidat lebar. Djika kau masih kesulitan aku berikan tjiri jang Keduwa: Tjarilah orang jang berambut ikal, tekstur rambutnja lebih tjondong ke keriting jang tak terawat. Ketiga: Tjarilah orang jang mempunjai perut buntjit, dengan postur tubuh tidak terlalu gendut, memiliki tinggi tubuh jang memadai. Dan Keempat: tjiri warna kulitnja sawo mentah tuwa alias matang di pohon.

Djika kalian masih kesulitan mentjari orang seperti jang aku maksudkan, saranku lebih baik kau melandjutkan aktivitas batja tulisan ini sadja. Lagipula djika kau benar2 mentjarinja dan menemukan orang jang aku maksudken. Lantas, kau akan meletakkan tanganmu ke dahi orang tersebut. Aku menghormati sikap kalian itu, aku tahu ini tentang wudjud pembuktian, walau sebenar2nja kau telah berhasil membuat aku chawatir, sebenarnja aku tak mengapa djika kau benar2 melakukannja, bahkan harus aku akui bahwa kau sungguh2 telah mentjapai daja pikir jang tergolong krisis nalar. Lagipula apa maksud batinmu dengan aksi mentjari orang hanja untuk menempelkan tanganmu ke dahinja, itu kelewat luar biasa kawan. Akan banjak orang jang salut, djuga akan lebih banjak orang jang geleng2 kepala.

Batas antara waras dan tidak waras itu ternjata setipis kelambu

Tapi sesekali daja pikir kita memang harus berani keluar dari tjara berpikir kewadjaran. Kewadjaran tjara berpikir jang sesuai dengan situwasi, kondisi, kemampuwan dan harapan, jang menurut para ahli psikologi hal itu dianggap sebagai tjara berpikir jang sehat. Tapi djika kita berani berpikir di luar konteks kewadjaran, resikonja sederhana sadja anda harus terbiasa dikatakan tidak waras alias gila. Harga jang tak begitu mahalkan. Aku kira kalian djuga sependapat denganku soal ini.

Sebenarnja kalian telah melakukannja atau belum? Aku penasaran sadja, bagaimana rasanja? Reaksi orang jang kau pegang dahinja itu bagaimana?

penyunting: jon mukidi

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More