/ MENULIS, ADBLOCK

Jangan nge-Blog Kamu Gak Akan Kuat

Paciran ❤ Lamongan

Jadi penulis kelas teri itu seperti ngumpulno upo, apalagi di era milenial sekarang. Di awal-awal saat kecepatan transfer data untuk meng-akses internet tak sekencang saat ini (dan masih mahal), konten internet yanh paling bisa dinikmati tanpa banyak membuang duit, adalah tulisan-tulisan aberupa blog atau e-book. Penulis masih punya ruang untuk bernafas. Entah itu memilih untuk menulis sebuah e-book atau memilih mempublikasikan tulisan-tulisan lewat blog. Katakanlah menjadi semacam self publisher.

Trend yang kemudian booming ketika Google datang dengan Adsense-nya. Kaya dengan dengan menerbitkan sebuah website menjadi hal yang lumrah. Sumber utamanya tentu saja penawaran dari iklan yang tayang.

Namun ketika koneksi data makin cepat, konten yang bisa diakses dari internet pun makin besar, muncul beragam audio book yang dijual. Penulis sudah tak jadi penulis, tentu kata tebal tersebut bisa dibantah. Bukannya skrip yang dibacakan perlu ditulis dulu? Setidaknya menuliskan alur dan rangka deskripsi agar alurnya tidak bertele-tele. Baiklah, alasan yang bisa diterima. Tetapi sudah tak ada lagi tulisan yang bisa dijual, hanya rekaman.

Sampai disini, website dan blog maupun portal berita kecil masih bisa survive, masih bisa kaya dari tulisan. Sayangnya e-book receh mulai tertatih. Saia juga masih ada harapan. Berfokus di tulisan bertema “Tutorial”, tulisan saia masih banyak peminat, bahkan viewer di blog itu meningkat.

Tetap Menulis? Jangan Jadi Sampah

Fast forward, konten video tutorial yang mulai bermunculan di YouTube yang saat itu sudah diakuisi Google. Terlalu enak menikmati hasil dari blogging, tak ada kewaspadaan. Buta dengan peluang yang ada, hingga viewer mulai menurun sedikit demi sedikit pun masih belum sadar juga. Masih tetap berpikir terlalu-optimis bahwa menurunnya traffick karena pengaruh hewah ternak (baca: algoritma) Google.

Terlalu jumawa kalo boleh dibilang. Bergantung skill SEO seadanya, saia masih berjuang untuk manaikkan viewer blog itu. Arus pengunjunh berhasil kembali seperti semula meskipun harus nyungsep dulu karena salah ketik (anggap saja begitu) hingga harus berpusa selama 3 bulan tanpa gajian.

Berkutat dengan SEO bukannya hal yang bagus jika memforsir semua tenaga yang ada. Saia pun lupa, bahwa “Content is the King”, alias lupa update artikel dan lupa tujuan utama nge-blog dulu: M E N U L I S.

Kerhasilan menaikkan viewer tak bertahan lama, arus pembaca yanh datang kembali menurun, walauoun tak drastis. Siapa juga yang mau berkunjung balik jika tak ada konten yang segar? Mana ada pembeli yang membeli dagangan yang busuk? Belum lagi datang masanya adblocker sebagai plug-in browser desktop. Jadi pengunjung dekstop sudah saia ikhlaskan, tak saya anggap. Makin fokus ke platform mobile.

Adblock dan Browser Tengik

Apa latjur, muncullah browser mobile yang memblokir semua iklan yanh tampil. Tahu kan? Saia yakin kisanak juga pakai kan? Hampir 60% pengunjung yang datang memakai browser bia••b itu. Mungkin tak jadi soal jika cuma sumber penghasilan saia sedikit terpangkas. Toh itu pilihan pengunjung blog untuk “tidak bersedia melihat iklan”. Saia tak akan marah. Yang jadi masalah dan yang menjengkelkan adalah: Ternyata aplikasi penampil laman web ini malah menampilkan iklan-iklan kep•••t. Istilah saia: hidup dari membunuh. Strategi yang luar biasa.

Kamu tak perlu memakai plug-in AdBlock maupun UShit Browser saat mengakses situs Paciran Lamongan karena tak ada iklan disitus ini, bahkan Analitycs Tracker pun tak terpasang. Riko aman lur.

Sebagai penghasil konten kelas teri, saia kalah telak. Penghasilan tak lancar, makin ogah-ogahan menulis blog, makin hancur inbound-trafick. Belum lagi meledaknya konten Video dari Youtube. Bisa jadi, dengan dukungan dari meningkatnya kecepatan transfer data dan murahnya harga quota, konten video bisa lebih mudah diakses. Tak ada lagi istilah menunggu buffering hingga mata pegel.

Sedot sek Rokokmu…

Haha… Sedemikian pun, belum mau sadar juga saia. Masih keukeuh tidak mau menjamah konten Video. Setidaknya untuk sekarang, entah nanti.

Ngudut disit!

Kisah saia adalah contoh dari seseorang yang Gagal Sukses gara-gara terlalu enjoy menikmati manisnya secuil remah coklat di tepi sungai dan menolak untuk menyeberang padahal sudah melihat ada pesta api unggun di sana.

Bukan tanpa alasan, meskipun kalau saia ucapkan akan terasa bohong bingits. Mungkin juga kamu akan bilang: “Maksa!”.

mukidi

Jon Mukidi

GaPenting, buronan para penagih hutang, reskrim, camer, hingga homo keparat yg keponya kebangetan.

Read More