/ FIKSI, FABLES

Cerpen 2014: Di bawah Pohon Meranti

Paciran ❤ Lamongan

Pada zaman dahulu kala. Nun jauh di sana di dalam rimbunnya sebuah hutan belantara. Hiduplah bermacam-macam hewan. Dari sekian macam banyak hewan, hiduplah seekor burung Dara, yang dalam kesehariannya sangat suka menyendiri. Nama burung dara itu, Sapari. si Sapari ini suka terbang mengarungi hutan belantara sendirian.

Ketika asek terbang mengarungi hutan, sampailah dia di sebuah alun-alun bandar/kota kerajaan Singa. Sapari hinggap di dahan pohon jati, sorot matanya mengamati hiruk-pikuk pola kehidupan kawanan singa, tingkah laku kawanan singa sangat congkak, sombong dan angkuh. kawanan singa itu suka memakan apapun yang mereka mau, memakan apapun sekehendak hati.

Dalam relung dan benak pikiran Sapari berkata. “Bila semua hewan di hutan ini habis dimakan oleh singa. Apakah mungkin mereka akan makan sesamanya. seperti tingkah laku manusia.” Cuitan batin Sapari, gundah.

“Hauuum.” Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, lamunannya buyar, hilang tak berbekas. Seekor singa muda menghampiri Sapari yang bertengger di atas dahan pohon jati. Singa muda itu mengaum, menggertak, menghardik, hendak menakut-nakuti dan memperingatkan Sapari.

Singa muda itu berkata pada Sapari. “Kenapa kau tak takut pada aumanku.” Gerutu singa muda itu kesal. Sapari hanya diam saja, berlagak seakan-akan tuli.

Singa muda itu meradang, tak terima jiwa satrianya dilecehkan mentah-mentah oleh seekor burung dara. “Akan ku terkam, kau burung sombong!” Ancam singa muda itu serius. Sapari pun masih diam saja, tetap tak bergeming.

Melihat kawan mudanya yang tidak mendapat penghormatan yang selayaknya satria, sebagaimana kesatria yang harus dihormati oleh kaum yang lebih lemah (baca: kawulo alit). Seekor singa yang lebih gagah besar, datang menghampiri Sapari dan singa tersebut langsung murka. “Mau main-main, kau di sini. cari mati, kau burung tak tahu diri.”

Sapari hanya memandang singa itu dengan lagak tersenyum sinis. Entah bagaimana caranya, cerita kawanan singa yang merasa kecut pasih itu sampai ke kedaton kerajaan. Hingga isu itu melebar terbang tak tentu arah tujuan dan sampai juga ke telinga sang raja singa.

Merasa tidak nyaman dan terhina dengan desas-desus yang berkembang, raja singa berniat mendatangi dan menghampiri Sapari, si burung dara yang membikin lemah mental rakyatnya.

Sebagaimana layaknya seekor raja yang bijak dan mampu mengayomi kawanan singa yang terkenal buas. Sang raja hutan sowan ke pohon jati tempat burung dara itu bertengger, dengan bijaksana sang raja singa itu berkata kepada Sapari. “Ada perkara apa sampai kau di sini? ini wilayah hutan singa. Apakah kamu tak tahu! Setiap yang datang ke sini harus memberi pajak barang berharganya, termasuk nyawamu. Bila kau tak bisa memberikan barang berharga mu, dengan senang hati! kami akan memangsamu, wahai burung dara yang terlampau nekad.”

Sapari maklum, kepalanya menunduk takdim tanda memberi hormat. Dengan lemah lembut dan hati-hati, dia berkata pada raja singa. “Sahaya lebih dari tahu segala resikonya paduka raja, mohon beribu ampun paduka raja. Hamba merasa khawatir dengan apa yang sudah dilakukan kawanan singa terhadap kelangsungan hidup di hutan ini.”

Mata raja singa melotot, wibawanya tercoreng oleh tingkah laku burung dara yang lihai. Dengan mimik wajah serius, raja singa menimpali. “Aku singa, sang raja hutan di rimba belantara ini. Aku tak punya rasa khawatir, rasa khawatir itu hanya ada pada mangsa-mangsa ku, seperti kau burung sok tahu dan sombong.”

Sapari mengepakkan satu sayapnya ke dada–dengan pelan kepalanya menunduk lebih rendah, memberi hormat pada sang raja hutan. “Mohon beribu ampun paduka raja, bila hamba telah lancang bicara. Memang benar, tiada yang salah, apa yang sudah paduka raja katakan itu, hanya pada kamilah yang lebih lemah ini untuk selalu cemas dan khawatir. Barangkali paduka raja belum tahu. Apakah paduka tak lihat di seberang hutan ini ada puluhan manusia. Hanya puluhan paduka, tak sampai seratus, belumlah sampai jutaan jumlahnya, jika sampai jutaan itu akan lebih mengkhawatirkan lagi, gawat, darurat. Bila paduka raja tak bersahabat dengan semua hewan yang ada di hutan ini. Maka akan semakin cepat hutan ini akan dikuasai oleh manusia.”

lion king disney

Raja singa tertawa, gigi-gigi taringnya terlihat. “Ha-ha-ha, Ha-ha-ha. Wahai rakyatku sekalian, kalian sudah dengar apa yang dikatakan oleh burung tak elok ini.” Dan kawanan singa yang mendengar perkataan rajanya itu ikut tertawa.

“Hai…! Kau burung kerdil! Jutaan tahun nenek-moyang kami telah berkuasa di rimba belantara ini, dan perlu kau tahu, manusia-manusia itu biasanya kami terkam jikalau mereka masuk ke hutan, untuk apa mesti khawatir. Kau burung pandai bicara. Mau menipu raja singa. Ha-ha-ha…. Tak bisa.”

Tanpa aba-aba. Sapari mengepak-ngepakkan sayapnya dengan tergesah-gesah, terbang dan melayang ke arah utara. Tanpa pamit atau membalas ucapan sang raja singa.

“Akhirnya kau takut juga, dasar burung sombong. Pergi tanpa unggah-ungguh lebih dulu. Celakalah kau beserta anak cucumu.” Umpat dan kutuk raja singa ke burung dara yang telah pergi jauh dari pandangan.

Daun-daun di setiap dahan dan ranting pohon tak bergerak, mendadak seisi hutan sunyi, senyap, diam dalam cekam. Gebyar desing peluru melesat terbang mencari sasaran sedapat-dapatnya, suara bedil menggelegar di pinggiran hutan. Jerit suara mesiu berlomba-lomba, desak-mendesak ke dalam rimba belantara, gelegar suara pedil merangsek menerobos tembok semak belukar, menyergap masuk ke dalam hutan.

Tubuh raja singa terdiam, gerak kaki-kakinya terpaku, seakan-akan ada beban maha berat yang menimpa seluruh badannya. Dan rakyatnya lebih-lebih linglung, kawanan singa bingung, tak tahu meski harus berbuat apa. Dalam hati mereka bertanya-tanya. “Suara apa itu..?” Guman batin setiap singa.

Derap langkah kuda berderu, membelah rimba hutan belantara. Mengangkangi keperkasaan dan keagungan kerajaan singa. Tak lama kemudian kawanan singa melihat puluhan manusia berkuda lengkap dengan senjata senapan di tangan.

Satu–dua–tiga singa apes terkena peluru, terkapar! meregang nyawa. Raja singa dan rakyatnya takut bukan buatan, kawanan singa lari tunggang langgang, berhamburan ke segala penjuru arah. Lari sekencang-kencangnya, dengan sekuat tenaga berusaha menghindari peluru hasil tembakan manusia yang begitu semangat memburu mereka.

Beruntung sang raja singa mampu menghindar dari kejaran manusia, lari masuk ke dalam hutan yang jarang dilewati oleh kawanan singa. Langkahnya terseok-seok. Malang kaki sebelah kiri raja singa tidak beruntung, sebutir peluru bersarang di dalam dagingnya. Berjalan lambat terhuyung-huyung, batinnya mengumpat dan memaki-maki. Dalam hatinya masih ingin sekali berontak, merasa jiwa kesatrianya luntur terkoyak-koyak tuntas.

Dalam keadaan lemah tak berdaya, raja singa berhenti melangkahkan kaki, terdiam di bawah pohon meranti, jiwa rajanya meluapkan amarah, tekadnya terbakar dan masih ingin menyerang balik kawanan manusia, mengembalikan kuasa dan wibawanya seperti pada masa jayanya beberapa menit yang lalu.

Tapi kini tubuhnya luruh, kekuatannya hilang, aumannya tak lagi menciutkan nyali setiap hewan di hutan, apalagi manusia. Dalam keadaan pasrah yang terpaksa, sekelebat matanya melihat sesosok bocah kecil di atas kuda, lengkap dengan senapan di tangan kanannya.

“Gawat.” Kata batinnya senyap, dalam situasi darurat tak ingin suara batinnya sampai terdengar oleh manusia, jiwanya terancam. Hanya berjarak selemparan batu, bocah kecil itu kini tampak nyata di depan mata.

Senapan berburu bocah kecil itu mengarah tepat kepadanya. Tubuhnya mencoba bangkit namun otot-otot kakinya tak berdaya, tak lagi mampu menopang berat badanya. Dia menghindari sorot mata bocah kecil itu.

Mencoba bertahan hidup dengan berbagai cara. Raja singa mengaum sejadi-jadinya, meski kekuatannya berkurang dan tak lagi bisa menyerang musuh secara tiba-tiba. Di atas kuda sorot mata bocah kecil itu masih terpaku, moncong senapan berburunya goyah, tangannya mengeluarkan bunyi-bunyian gemetar.

Merasa mendapatkan angin keberuntungan, sang raja singa kembali menggertak bocah kecil itu dengan auman. “Hauum.” Dan sedetik kemudian, “Dor, dor, dor!” Suara senapan laras panjang meredupkan auman sang raja singa.

Kini raja singa dipaksa terdiam. Tambahan tiga butir peluru menyasar tubuhnya dengan sengaja. Darah segar mengalir deras dari perutnya, kakinya, dan kepalanya. Tubuhnya sang raja singa terkapar, tak bisa bergerak lagi, roh sang raja singa telah mangkat ke alam baka.

Bocah kecil itu masih terpaku di atas kudanya. Kilasan kejadian yang terjadi di depan matanya tak sanggup dicerna oleh akal pikirnya. Tubuhnya lemas, luruh, hilang semangat berburunya, matanya sembab, sorotnya sayu, genangan air matanya tumpah.

Jiwa bocah kecil itu tercabik-cabik tak kuat menahan beban yang tak tertanggungkan, suara gemetar dari kedua tangannya masih terdengar, hatinya ngilu, badannya ambruk dari kuda, kedua matanya masih basah seakan enggan untuk melihat isi dunia, namun sulit untuk terpejam.

Dalam kalut dia berteriak pekak. “Kenapa kalian tembak, singa itu!” Jerit pilu bocah kecil itu pada paman dan kakak-kakaknya.

“Justru kami sedang menyelamatkan nyawamu dari terkaman singa itu, goblok!” Sergah kakaknya dengan lugas. Membungkam suara jerit, bocah kecil itu.

Bercak merah masih menyala dan menyolok pandangan mata, di tanah dan di rerumputan tepat di bawah pohon meranti. Genangan warna merah darah masih segar diingatan bocah kecil itu. Meski kini singa malang itu tak lagi di tempat semula. Jasadnya telah berpindah tempat ke dalam gerobak yang ditarik dua ekor kuda.

Tamat.


Catatan penulis: Awalnya dongeng ini sudah pernah aku tulis lewat pesan singkat atau bisa dikatakan aku ceritakan pada orang lain. Aku hanya bisa mengingat tahunnya, waktu itu tahun 2014. Tanggal dan bulannya aku sudah lupa. Seingatku kala menulis kisah ini saat malam, lebih tepatnya dini hari .

Maksudku saat itu aku sedang bingung harus bercerita tentang hewan apa. Cerita di atas ide awalnya sebagai pengantar tidur untuk seseorang, (ora usah dadak baper) itu kenapa aku linglung pada awalnya.

Lalu daya imajinasi diri ini memunculkan gambaran burung, singa, hutan dan tentu saja manusia dengan segala sifatnya, ambisi dan naif. Daya khayalku kala itu terkenang dengan dongeng lama saat masih duduk di bangku TK dulu.

Meski tidak secepat kilat tangan ini mengetik dengan sendirinya. Hasilnya seperti yang kalian baca di atas. Tentu saja sesudah aku edit di sana-sini terlebih dahulu.

Semoga kalian yang sudah baca kisah ini tidak jadi tidur. Jangan tanya! kenapa endingnya tidak jelas dan terkesan dipotong. Pada hakekatnya memang sengaja saya potong, sebab saya bukan dalang kentrung. Kalau tidak saya potong seperti itu, justru saya sendiri yang tidak tidur.

Kalau situ gak bisa tidur, mari teriak bersama dengan berdendang irama syahdu.

Dari editor: Ada rekomendasi bacaan yang bagus berjudul Disney vs Nature #3: The Lion King, di artikel ini, editor juga menemukan gambar ilustrasi.

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More