/ FIKSI, CERPEN

Cerpen: Kembali Pulang

Paciran ❤ Lamongan

Kilau matahari pagi menerjang rumah berwarna biru, sinarnya masuk melalui cela-cela jendela kaca, menerobos tanpa terhalang kelambu. Pagi itu tepat pada pukul 08:39 WIB. Seperti biasa selama beberapa tahun belakangan, setelah mengantar anaknya ke sekolah, aktifitas rutin laki-laki paruh baya itu selanjutnya adalah membaca surat kabar di halaman belakang rumah.

Pagi itu sebagaimana dengan pagi-pagi yang telah dulu, melewatkan pagi yang sederhana dengan memakai sarung dan kaos oblong polos, laki-laki itu duduk di bangku setengah reyot sesekali sorot matanya terbelalak, kerutan di dahi ditarik keheranan tampak serius menyimak kabar berita utama di surat kabar pagi, waktu itu.

Sementara perempuan itu sedang merajang, mengaduk dan memilah-milah bahan mentah untuk dimasak di tungku dapur, lantunan suara biduan bergema dari tape recorder butut, seperti biasa perempuan itu memasak sambil mendengarkan deretan tangga lagu favoritnya. Sesekali terdengar suara gaduh saat alat-alat dapur saling bertegur sapa.

Laki-laki itu tersenyum sendiri melihat tingkah pasangannya itu, meski adegan demi adegan itu sudah berulang kali bahkan sudah terlalu sering melihat drama klasik itu di depan matanya, “Pagi yang cerah, menentramkan hati.” kata batin laki-laki itu dengan masih tersenyum sendiri.

Dan kamu telah membaca ribuan lembar surat kabar tiap hari namun belum pernah, juga belum menemukan jawaban yang sesuai atas pengalaman yang kamu rasakan saat ini, Meski sudah berulang kali mencoba mencari dan mencari artikel mengenai perasaan yang kamu rasakan setiap hari.

Ulasan berita pada hari itu tentang situasi perang di timur tengah, seakan tiada topik yang lebih menarik lagi selain perang di kawasan gurun tersebut. Konon katanya kata ‘perang’ itu sendiri berasal dari sana. Walau begitu tetap saja kamu membaca satu persatu, lembar demi lembar halaman kertas surat kabar itu.

Hingga kemudian konsentrasi membacamu buyar, kala gendang telinga kamu mendengar suara tangis khas anak kecil, sayup-sayup suara itu samar terdengar namun semakin lama suara tangis itu makin jelas dan sumber suara tangis itu serasa mendekati dirimu dan kini suara itu terdengar jelas di rumah kamu.

Seketika itu suara musik di dapur tak lagi kamu dengar, dan seolah-olah mendapat bisikan gaib dari langit, perempuan yang sedang memasak di dapur itu berjalan setengah berlari, tergopoh-gopoh dan bergegas jalan ke depan rumah, mencari sumber suara tangisan anak kecil itu.

Kamu berdiri dari tempat duduk, hatimu risau, langkah kakimu tak tenang mengikuti bayangan perempuan itu, kamu ikut-ikutan terseret suara magis itu, suara tangis anak kecil. Langkah kaki pasanganmu telah sampai di pagar rumah, pandangan matamu melihat lurus ke depan tepat di pagar halaman rumah.

Kepala perempuan itu menoleh kepadamu, menampakkan guratan wajah luruh dengan mimik cemas dan mata sayu, sementara kedua tangan perempuan itu membelai rambut gadis kecil itu, kepala mungil gadis kecil itu bersandar pada pundak perempuan itu dan gadis kecil itu masih menangis.

Perempuan itu sesekali menggunakan tangannya untuk menyeka dan menghapus air mata gadis kecil itu dan tak jarang dia mengelap ingus yang menetes dari hidung mungil gadis kecil itu dengan bajunya.

Tiba-tiba Kekuatan mata batinmu runtuh dan perlahan langkah kakimu menghampiri gadis kecil itu dan istrimu, kamu merangkul kedua wanita yang kamu sayangi itu dengan hati-hati, kamu mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.

Kini tubuh gadis kecil itu kamu gendong, dengan mata sembab istrimu berjalan ke belakang rumah, menuju ke dapur dan secepat kilat kembali dengan segelas air putih di tangan, lalu menawari gadis kecil itu air minum, namun anak kecil itu menolak dengan gerak kepala, menggeleng pelan.

Kamu berdua berusaha dengan bahasa dan ucapan yang lebih lemah lembut dan merayu, hingga kedalaman hati gadis kecil itu tenang dan terdiam dari tangisnya. Setelah tenang anak kecil itu mau minum air putih yang ditawarkan oleh ibunya, dan kamu masih merasakan kecemasan, jemari mungil gadis kecil itu masih menggenggam erat tubuhmu.

Bermula dari rasa ingin tahu dan penasaran terkait sebab musabab anak kecil itu menangis, kamu bertanya pada gadis kecil itu. “Adik, ada apa? kok berjalan pulang sendirian ke rumah,” tanyamu penuh selidik.

“Afte aeok iuo krfut.” Wajah gadis kecil itu masih tersedu sedan dan menjawab dengan suara terbata-bata, lidahnya seperti tertekan dan suara yang keluar dari mulutnya jadi terdengar samar dan tentu saja tidak jelas apa maksud ucapannya.

“Adik, kenapa?” Kamu kembali meminta jawaban.

“Tadi adik dimarahin sama Pak guru, adik disuruh keluar dari kelas, di luar kelas adik bingung dan malu, terus adik berjalan keluar dari halaman sekolah, adik nangis dan jalan pulang sendiri ke rumah.” Keluh anak kecil itu dengan derai air mata yang semakin deras.

“Kenapa adik pulang? kan belum waktunya jam pulang sekolah!” tanyamu mencari tahu duduk persoalan.

Gadis kecil itu menatapmu dengan sorot mata mengiba dan dekapan tangannya kembali semakin erat, kepalanya semakin dibenamkan ke dadamu. Tanganmu mengelus ngelus punggungnya dan mendekap lebih dalam.

“Adik bingung dan malu dengan teman-teman, Bapak.” Curahan hati gadis kecil itu terdengar lagi.

“Ceritakan dong ke Bapak. Bagaimana Pak guru kamu itu bisa marah ke adik?” pintamu penuh harap.

Sebelum menjawab, gadis kecil itu menatap ibunya yang ada di ruang dapur dan ibunya membalas tatapan itu dengan senyuman menenangkan. Sejenak kemudian suara centilnya keluar dengan lancar saat bercerita.

Tadi di dalam kelas, Adik sedang mengikuti pelajaran, semua teman-teman sudah ditanya oleh pak guru, terus pada gilirannya sampai juga ke adik, Pak guru mendekat ke tempat duduk adik, lalu adik ditanya sama Pak guru begini: ‘Software anak yang rajin, tentunya rajin juga sholat dan mengaji?’ Terus adik jawab.

“Aku tidak sholat dan mengaji, Pak.”

Wajah Pak guru itu mendadak berubah, kedua alisnya saling mendekat, lalu Pak guru tanya lagi. “Apa Bapak dan Ibumu tidak marah! kalau kamu tidak sholat dan mengaji?”

“Bapak dan Ibu saya tidak pernah memaksa saya untuk sholat dan mengaji, jadi mereka tidak pernah marah kalau Software tidak sholat dan mengaji.”

Selesai adik menjawab pertanyaan itu, Pak guru menunduk dan menatap mata adik dengan sorot tajam, adik jadi takut tapi adik tetap menjawab, saat Pak guru tanya lagi. “Lalu apa agama ayah dan ibu kamu?”

“Bapak dan Ibuku tak punya agama, Pak.”

Dengan sikap badan berdiri tegak serta tekanan ucapan suara yang lebih tegas dan keras, Pak guru bertanya lagi. “Berarti kamu! bapakmu! dan ibumu telah murtad!”

Adik bingung dan mengerti dengan pernyataan pak guru. Spontan adik bertanya balik ke Pak guru. “Murtad itu apa, Pak? Software tidak mengerti.”

Belum sempat pak guru menjawab pertanyaan adik, Pak guru itu berjalan kembali ke depan membelakangi adik, sampai di depan dia balik badan dan menghadap ke semua teman-teman adik, lantas Pak guru berkata.

“Anak-anak kita sedang belajar agama, namun ada salah satu di antara kita yang tidak beragama, dia teman kalian sendiri namanya Software, karena dia sudah mengaku tidak beragama, maka dia tidak pantas berada di dalam kelas ini. Kepada Software diharapkan untuk meninggalkan kelas ini.”

Sontak waktu itu adik kaget, lantas memberanikan diri untuk bertanya lagi ke Pak guru. “Tapi saya di sinikan mau belajar bareng dengan teman-teman, kok malah disuruh keluar to, Pak!”

Dan wajah Pak guru itu merah dengan mata yang terbuka lebar, dengan tangan kanannya pak guru menunjuk ke muka adik sambil berkata. “Kamu dan keluargamu itu tidak beragama, sudah murtad, dan tidak punya tuhan, jadi kamu tidak pantas ada di dalam kelas ini.” Kata pak guru sambil terus menatapku.

“Sebaiknya kamu pindah sekolah lain saja dan mulai sekarang kamu boleh keluar dari kelas ini, itu lebih baik daripada kamu mengganggu belajar teman-temanmu di sini.” Sambung pak guru.

“Pak guru kenapa bicaranya kasar, dan kenapa pak guru jahat ke saya.”

“Kamu kalau dikasih tahu oleh guru jangan membantah.”

“Tapi, pak guru bicaranya jahat.”

“Kenapa kamu jadi menuduh pak guru jahat. Sebaiknya kamu tidak ada di dalam kelas ini.”

“Pak guru jahat!”

“Kamu murid yang bandel, kalau kamu tidak sekarang akan saya pukul kamu dengan papan penggaris ini.” Ancam pak guru.

Karena Adik takut, ya adik keluar dari kelas. Sedangkan teman-teman juga pada menyoraki adik.

“Hu hu hu. Kafir gak punya agama.”

Saat di luar kelas pun adik bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, terus adik jalan keluar sekolah dan jalan pulang ke rumah.

Mendengar pengakuan gadis kecil itu, air mata ibunya kembali menetes deras, tangannya memeluk gadis kecil itu dalam dan lama sekali, kemudian dengan tenang dia berdiri melangkah kaki kembali ke dapur melanjutkan masak, dan kamu mengajak Software di gendongan masuk ke dapur, menghampiri ibunya yang sedang memasak kue buat ulang tahun gadis kecil itu.

“Hari ini ibumu sedang memasak kue ulang tahun untuk kamu. Apa kamu tidak bahagia.” Bujuk rayumu pada anak kecil itu.

“Aku senang bapak.” Jawab Software dengan cepat dan kini bibir mungilnya sudah kembali tersenyum sembari memandang gemas ke ibunya dengan riang gembira. Seakan-akan tragedi penolakan yang baru saja dialaminya tadi pagi tidak pernah terjadi.


Hari telah berganti malam. Software kini tertidur pulas di ruang tengah, terlelap di alam mimpi, sementara itu televisi masih menyala, menampilkan gambar kartun animasi.

Di dalam kamar perempuan itu berbaring manja di dadamu yang bidang, tangannya memeluk erat tubuhmu, serasa tak ingin lepas lagi, berharap bisa menyatu dan tak ingin terpisah.

“Aku khawatir anak kita akan sering mendapatkan perlakuan buruk dan kasar semacam itu dari lingkungan sekolahnya.” Bisik resahmu sambil menatap kedalaman mata perempuan itu.

“Aku tahu mas, sebaiknya kita berdamai dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.” Pinta perempuan itu dengan mengecup lehermu.

“Hanya ada dua pilihan, kita pindah dari tempat ini atau menyerah dengan keadaan.” ucapmu memberikan dua pilihan.

“Menyerah! maksudmu.” Canda perempuan itu gemas dengan tersenyum menggoda.

“Maksudku berdamai dengan keadaan dan orang-orangnya.” Sahut bibirmu menjelaskan dan tangan kananmu memencet hidung mungil perempuan itu.

“Kita coba berdamai dulu sampai tiga bulan ke depan, jika situasi tidak berubah, aku rasa bisa pindah bukan pilihan yang buruk.” Sambung perempuan itu.

“Semua kawan-kawan kita juga mengalami hal yang sama, aku tak nyaman jika harus minta bantuan mereka lagi.” Kamu berkata dengan menyembunyikan keresahan.

Perempuan itu menatapmu dalam-dalam sejenak kemudian tanganmu memeluk tubuh sintal itu lebih dalam dan tanpa dipinta bibirmu telah mendarat mulut di bibir perempuan itu, bibirmu dan bibir perempuan itu saling melumat cukup lama, selesai melepas bibir masing-masing, kamu berdua tersenyum.

“Mas, aku bahagia bersamamu dan jika memang kita harus pindah, sebaiknya kita pindah ke daratan selatan.” Saran perempuan itu.

“Akan aku usahakan. Sebaiknya aku akan pindah Software dulu ke kamarnya.” Kamu pamit mohon ijin ke keluar kamar.

Perempuan itu tersenyum melihatmu melangkahkan kaki keluar kamar. Di ruang tengah kamu melihat anakmu tertidur pulas, kedua tangan kekarmu kini merengkuhnya pelan dan dengan hati-hati kamu bopong anakmu ke dalam kamar.

Sayup-sayup terdengar oleh laki-laki itu suara orang-orang kampung yang semakin mendekati rumahnya, “Ada kegiatan apa malam-malam begini.” Kata batinmu penuh tanya. Setelah menina bobokan anakmu di dalam kamarnya, langkah kakimu kini berpindah ke kamar tidurmu sendiri.

Tiba-tiba derap langkah ratusan orang-orang kampung itu semakin mendekati rumah laki-laki itu, begitu mereka sampai di halaman depan rumah laki-laki itu orang-orang kampung membikin barisan pagar betis melingkari tiap sudut rumah laki-laki itu. Seakan tak ingin ada mangsa yang lolos dari kejaran.

Salah seorang maju ke depan dengan sikap memberi komando dan orang-orang kampung itu saling bersahutan dengan suara sorak sorai mengancam dan berkoar-koar penuh umpatan, dan salah seorang lainnya mulai melempar batu, dua-tiga batu melayang tepat ke kaca jendela. “Pyar.” Memecahkan kaca jendela.

“Bakar, bakar.” Seloroh orang-orang kampung itu kompak dan penuh amarah yang meluap-luap. Mengangkat obor tinggi-tinggi dan tinggal menunggu komando untuk melayang.

Tanpa aba-aba, obor yang menyala di tangan orang-orang kampung itu kemudian ikut melayang secara bersamaan ke atap rumah laki-laki itu, seketika atap rumah itu telah dilahap si jago merah, bumbungan api besar menyala dengan ganas dan dengan cepat merembet membakar apa saja yang menghalangi jalan takdirnya, dalam waktu kurang dari satu jam, bentuk rumah mungil itu telah berubah jadi arang beserta dengan seluruh isi-isinya dan juga penghuninya.

Keesokan harinya, dari keterangan polisi yang dimuat di surat kabar sore, baru diketahui duduk perkaranya, bahwa orang-orang kampung itu tersulut emosi dan amarahnya karena telah mendapatkan informasi yang belum jelas kebenarannya, mereka mempercayai bahwa keluarga laki-laki itu telah melakukan penghinaan terhadap seorang guru agama.

Isu itu tersebar dengan cepat melalui penuturan langsung anak-anak orang kampung itu sendiri. Celakanya gurunya Software itu membenarkan kabar berita itu hingga isu dimakan bulat-bulat tanpa ada keinginan untuk mengkonfirmasi ulang kepada laki-laki naas itu.

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More