/ FIKSI, CERPEN

Cerpen 2016: Bocah Blandit

Paciran ❤ Lamongan

Senja telah menghitam, kini langit berganti wajah dengan jutaan bintik-bintik putih dalam kelam, Lawu seorang nelayan di desa pesisir, sedang duduk di teras rumahnya yang menghadap langsung ke laut. Laki-laki itu tidak bisa lama-lama menikmati pesona cahaya dan kilauan jutaan bintang malam itu.

Dia mesti bergegas, bergelut dengan sang waktu untuk ngayum (menyulam) jaring, menyulam tiap sisi jaring yang rusak. Pada alat jaringnya, dia percaya ada kesaktian maha agung yang melebihi kekuatan dari segala senjata para kesatria.

Dia lebih mempercayai kesaktian alat jaring yang telah memberikan sumber kehidupan anak dan istrinya, ketimbang Keris yang lebih banyak memberi kematian pada kehidupan manusia.

Dahulu kala, pernah diwariskan padanya sebilah Keris pusaka oleh Ayahandanya. Saat memberi senjata tajam itu, bapaknya berpesan. “Simpan baik-baik Keris ini, Keris pusaka keluarga ini sakti mandraguna, nenek-moyangmu telah turun-temurun mendapatkan berkah dari kesaktiannya. Pergunakan Keris ini dengan bijaksana, dan jangan lupa untuk mencucinya pada bulan Suro.” Tutur bapaknya kala itu.

Bila terkenang dengan pesan ayahandanya itu, Lawu suka tersenyum-senyum, teringat akan ulah bedugalnya sendiri, yang membuang Keris warisan itu di tengah lautan.

Tanpa dia sadari, istrinya diam-diam telah memperhatikan tingkah lakunya, yang datang menghampirinya dengan secangkir kopi sambil berucap. “Kamu ini kenapa kok senyum-senyum sendiri to, Kang? ini minum kopi dulu, biar gak edan.”

“Ha-ha-haaaa.” Lawu membalas cibiran istrinya dengan tertawa.

Setelah menikmati kopi buatan istrinya. Lawu hendak menggoda dan bertanya iseng pada istrinya, sambil tersenyum, lawu berucap. “Lah, kamu kok mau to dek! membikinkan kopi untuk orang edan ini?”

Mendapat pertanyaan sergapan tanpa ada tanda-tanda serangan lebih dulu dari suaminya seperti itu, istrinya Lawu hanya menjawab dengan guratan senyum dan tersipu malu.

Jemari tangan Lawu masih dengan telaten terus menyulam jaring. Sebagaimana serangan yang baru dimulai. Lawu bertanya lagi pada istrinya. “Dek! Mesemmu kok lain malam ini. Seperti habis menang opyok dadu.”

“Halah, polamu Kang, seperti orang yang tidak punya rasa saja.”

“Dek, Dek. Anak lanangmu ini kok belum pulang-pulang. Padahal sudah malam begini, main kemana to, Dek?”

Istrinya Lawu terdiam sejenak, karena lebih memprioritaskan rambut yang semrawut, merapikan ikatan sanggul rambutnya, baru menjawab. “Pamitnya tadi mau melihat orang kampanye di lapangan, kang. Berangkat rame-rame tadi, anakmu pergi dengan teman temannya.

”Setelah mendengar jawaban istrinya seperti itu, raut wajah Lawu berubah sayu, semangat menyulam jaringnya kini memudar. Dia menanggalkan Sikon (alat pengait) dan benang yang bisa menyulap jaring menjadi jerat mematikan untuk ikan-ikan.

Kini, Lawu mengambil posisi duduk lebih rapat dengan istrinya. Lantas dengan sikap lemah lembut memegang tangan istrinya, sementara wajah Lawu menatap jauh ke angkasa, menatap langit malam itu yang penuh dengan bintang bintang. “Langit malam ini indah ya, Dek?” Rayuan maut Lawu, pada istrinya.

“Ya, Kang.” Jawab istri Lawu dengan singkat.

“Mungkin, anak laki-laki kita belum tahu, kalau dewasa ini demokrasi telah menjadi media tontonan wajib yang dipaksakan ke masyarakat menjelang pesta pemilihan pemimpin. Kita disuguhi sorak-sorai dan gegap gempita ratusan tepuk tangan, yang memerankan adegan-adegan kebencian kepada sesama.”

Belumlah selesai Lawu bicara, istrinya sudah lebih dulu memotong curahan hatinya. “Aku sudah terbawa suasana malam yang indah ini, dan mengira kamu akan merayuku, kang, lah dalah, Sampean kok malah mau bahas politik. Kalau tahu begini mah, lebih baik aku tidur duluan.”

Seperti tersengat aliran listrik dengan tegangan tinggi, Lawu menatap wajah istrinya dan memasang wajah melas, minta ampun dengan sungguh-sungguh. “Maafkan, kangmas, karena telah membuatmu salah menduga, ini salahku karena tidak pandai membaca keinginan hati perempuan, Dek.”

Dengan tangan yang masih digenggam oleh Lawu, istrinya berdiri, mengekspresikan wajah merajuk, hendak beranjak masuk ke dalam kamar, dan Lawu makin menggenggam erat tangan istrinya, untuk melanjutkan aji-aji melasnya. “Kopinya tadi, nikmat sekali, Dek.”

Seakan sudah tahu dengan apa yang akan terjadi. Istrinya mengibaskan dengan paksa tangan Lawu, berontak untuk melepaskan genggaman tangan suaminya. “Telat, Kang, telat.”

Lawu tersenyum kecut dan melepaskan genggaman tangannya dan istrinya nyelonong masuk ke dalam rumah, masuk ke dalam kamar. Kini, dia kembali sendirian di luar rumah dan masih tersenyum sendiri, mengenang kejadian beberapa detik yang telah berlalu, terkenang dengan obrolan perempuan yang telah dinikahinya 10 tahun yang lalu.

Malam semakin larut, semilir angin laut yang bercampur dengan garam mampir ke darat, pikiran Lawu tidak tenang, bathinnya meronta, semakin khawatir karena anaknya belum pulang juga. Kala jemari tanganya ingin kembali melanjutkan menyulam jaring, anak laki-lakinya pulang dengan langkah kaki lunglai dan tertatih-tatih, gambaran raut wajah anak laki-lakinya itu penuh keringat bercampur debu dengan rambut yang basah, habis mandi oleh keringatnya sendiri.

“Habis main dari mana to, Le, Le. Badanmu kok sampai lusuh begini.” Tanya Lawu ke anak semata wayangnya.

“Nonton orang kampanye, Pak di lapangan.” Jawab anaknya dengan suara yang hampir sulit terdengar, nada suaranya malas-malasan.

“Lahiyo, Le, Le. Daripada nonton kampanye, kan mending main game Le, siapa tahu dengan pengalamanmu main game nanti, kamu malah pengen membuat game baru.”

Merasa tak enak hati melihat anaknya yang sudah begitu kelelahan, Lawu menghentikan pembicaraan dan menggendong anaknya masuk ke dalam rumah, menuju kamar mandi, kemudian dengan cekatan membasuh muka, tangan dan kaki anaknya, sampai menggendongnya ke tempat tidur. “Kok, nonton kampanye gak dapat kaos?” Lawu berkata ke anaknya.

Dengan mata yang sudah tertutup, anaknya menjawab.

“Kaosnya jelek-jelek dan ukurannya besar-besar, Pak.”

Lawu pun menimpali jawaban anaknya,

“Seharusnya diambil to, Le. Mau besar atau jelek, kan gak pa-pa, wong cuma buat penutup mesin perahu saja kok.”

Dan tanpa dinyana, anaknya membalas dengan suara ngorok.

“hrook, hroook, hroook.”

“Bocah blandit.” Lawu pun memaki anaknya sendiri.

(editor: jon mukidi, cerpen ditulis pada 11 Desember 2016 dipublikasikan di paciran.com 17 Oktober 2018 )

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More