/ FIKSI, CERPEN

Baca Cerpen “Ajak Aku Mandi”

Ia seekor tikus jantan, tidak jantan-jantan amat. Tetapi tetap saja jantan. Namanya Suki, tidak jelas, kapan Ia mendapatkan nama itu.

Menjelang malam kala itu, di saat senja mulai berubah jadi kelam. Dan seram. Suki baru saja terbangun dari mimpinya. Mimpi indahnya. Jika saja bisa memilih, Ia ingin tersesat dalam alam mimpi saja. Ia betul-betul berharap jika mimpi itu terjadi di dunia nyata.

Berdua menikmati keindahan diterpa semilir angin di atas bukit. Di depannya terhampar pemandangan laut yang tenang, sementara ia bercengkrama dengan seekor Kecoa betina, sahabat dekatnya. Ia mengingat kembali mimpi yang baru saja ia alami, sebuah mimpi yang sempurna. Ia baru saja mencium pipi sahabatnya itu untuk pertama kalinya.

Yang dicium tersipu malu, pipinya memerah. Sesekali sahabatnya itu mencuri-curi pandang ke wajah Suki dan bila ketahuan, wajah Kecoa betina itu secepat kilat berpaling. Mirip-mirip kisah cinta manusia jaman dulu, yang kini susah terwujud.

Sebagaimana keindahan dan keajaiban yang cepat memudar di dunia, mimpi itupun mengalami nasib yang serupa. Cepat berlalu, musnah, sirna, dan yang tertinggal hanya angan dan bayang-bayang.

Kini ia terdiam kaku, sendiri dan kosong.

Meski kulit bopengnya tak terlihat jelas malam hari, tetap saja membuat kedua kaki depannya sibuk. Menggaruk-garuk bopeng di tengkuk.

Entah demi ritual apa? malam itu ia ingin mencari genangan air. Keempat kakinya bergegas menyusuri jalanan menembus terowongan bawah tanah yang sudah lama dipetakan oleh para sesepuh terdahulu.

Sekelebat bayang-bayang serupa wajah kecoa betina melintas, sepertinya, malam itu, ia sangat berharap ketemu sahabatnya di terowongan yang ia lalui.

“Jika tidak bisa ketemu di atas tanah, setidaknya punya kenangan baik di bawah tanah.” Begitu pikirnya.

Di ujung terowongan pantulan cahaya rembulan mulai terlihat, ia terdiam sejenak. Ia tahu setelah melewati batas terowongan itu, ada genangan air yang selalu mengalir sepanjang tahun.

Langkah keempat kakinya terus menuju di genangan air. Setibanya di tempat yang dituju, cahaya rembulan menyambutnya. Kepalanya menoleh ke penjuru mata angin, di ruang terbuka, ia selalu memastikan tak ada bahaya yang mengancam.

Setelah yakin aman, direbahkan tubuhnya di pinggir genangan air itu. Dalam rebah, mulutnya seakan berkata kepada seluruh alam. Meski sebenarnya Ia diam. Barangkali saja dalam rebahannya ia sedang berdoa.

Mulutnya komat-kamit menyemburkan kata demi kata. Ia sendiri tahu bahwa mantra itu tak bisa diandalkan, namun dalam keadaan yang tidak bisa lagi berharap kepada yang lain. Ia tak ingin kehilangan harapan kepada mantra itu.

Selesai mengucapkan mantra itu, ia memejamkan mata sambil berkata keras-keras. “Wahai rembulan, aku hanya berharap satu saja. Aku ingin diajak mandi oleh kecoa betina yang sore tadi sudah kucium dalam mimpi.”

Selesai mengucapkan mantra dan pengharapan, kedua matanya mulai terbuka, dan sinar rembulan malam itu tidak menampakkan perubahan apapun. Raut wajahnya memendam rasa kecewa. Peluh dan kesahnya ia simpan dalam sepi.

Malam itu ia menunggu kedatangan kecoa betina hadir di pinggir genangan air itu. Sambil berharap si Kecoa betina mau mengajak ia mandi di genangan air.

Sinar rembulan sudah berpindah posisi, waktu berjalan begitu cepat. Ia lelah dalam resah. Sementara tekad batin tak ingin berpindah tempat. Tak mau kalah oleh keadaan ia memaksakan diri tetap di pinggir genangan air mesti harus menahan rasa ngantuk.

Karyo, berjalan tegak di pematang sawah, dengan cangkul di pundak dan rantang berisi bekal sarapan di tangan kiri. Ia terkejut, ada seekor tikus di pinggir genangan air yang berani beradu pandang dengannya.

Ditaruhnya rantang di tangan kiri, lantas kedua tangannya mengayunkan cangkul ke tubuh tikus jahanam itu dengan beringas. Ada suara jerit kecil tertahan macam perempuan genit kena cubit dari tubuh setengah gepeng gara-gara terhsntam cangkul.

Meski tikus sudah tak bergerak, Karyo belum yakin si tikus telah mati. Dihantamnya kembali tubuh tikus itu dengan cangkul. Kali ini tak ada suara jeritan. Tubuh si tikus bertambah gepeng.

“Modyar ora kowe.” Seru Karyo penuh kemenangan.

Tubuh tikus mati yang gepeng itu dibiarkan begitu saja di pinggir genangan air. Karyo dengan riang melanjutkan perjalanan. Menenteng kembali rantang yang berisi sarapan. Kemudian memanggul cangkul, yang kebetulan saja menjadi senjatanya pagi itu. Bukan karena direncanakan, sebab rencana lebih sering meleset.

Sementara itu di pagi yang sama, si Kecoa betina terjebak lem perekat bersama Cicak Jantan di salah satu rumah makan nun jauh di perbatasan desa.

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More