/ KULINER, EKONOMI

Bakso kok Kipu-Awu! Memotret Makanan Rumahan

Paciran ❤ Lamongan

Menurut beberapa ahli dan orang jang dianggap pintar, tjara terbaik untuk bertahan dari gedjolak ekonomi jang limbung dihantam badai dollar adalah dengan tjara menikmati kelimbungan itu sendiri.

Benar, tidaknja. Saja sendiri kurang tahu. Lagipula mata uwang tersajang kita jang bernama Rupiah (Rp) itu adalah salah satu dari sekian banjak mata uwang di dunia ini jang mudah terpantjing gelombang badai. Ora usah gawok.

Nilai mata uwang kita memang sudah begitu nasipnja, bahasa anak sekarang “Labil” artinja mudah galau. Terlepas dari isu-isu jang ada, kita tetap menjunjung tinggi rasa kebutuhan jang sama akan rupiah, walaupun menjadari mata uwang ini mudah tergerus ketahanan atawa kekuatannja.

Patjiran Bergojang, sekuat Gojangan Dollar

Di sini saja ingin berbagi ketjeriaan lain, jang mana untuk bisa menikmati kehangatan dan kenikmatannja harus terlebih dahulu melakukan meditasi tingkat tinggi, memindjam petuah para pini sepuh. “Tak ada kenikmatan tanpa bersusah pajah.”

Sebelumnja perlu kawan semua ketahui apa jang hendak saja bagikan ini adalah sesuatu jang tiap hari bisa kita temui. Terkadang karena sudah terbiasa ditemukan akal pikiran kita djuga mudah melalaikannja begitu sadja.

Makan adalah kebutuhan utama manusia, baik itu makan sendiri atawa makan bersama, asal djangan berdua di kamar hotel dengan istri teman. Itu namanja pagar makan tanaman. Selain tidak baik menurut petuah penjebar dakwah, djuga bisa dilaknat warganet jang mulia. Sebagai tjatatan itu djika kasus anda tersebar di dunia maja.

Empat Sehat Lima Paripurna

Makanan rumahan sebagaimana makanan pada umumnja biasa kita konsumsi sebagai penundjang ketahanan tubuh untuk beraktivitas. Baik itu makanan jang bergizi maupun makanan jang tidak masuk dalam golongan empat sehat lima sempurna.

Bagi kita sebagai orang desa tidak ada urusan makanan itu bergizi atawa tidak, empat sehat lima sempurna atawa tidak, bisa ketemu makanan di rumah tiap hari sadja itu sudah seperti hidup di surga.

Bakso Kipu Awu Oleh karena itu kali ini saja akan membagikan satu foto makanan jang sudah masuk kedalam perut saja sore tadi. Jumat (07/09/2018). Saja memberikan nama untuk makanan ini dengan nama “Bakso Kipu-Awu” ada alasan chusus kenapa saja memberi makanan ini dengan nama jang mengundang hati kepengen selalu berontak. Konon katanja Bakso adalah salah satu makanan favorit Obama. Itu pun djika kabar itu bisa dipertjaja.

Baiklah. Saja akan sedikit mendjelaskan bagaimana duduk perkaranja, maksudku soal rasa dan kenikmatannja. Menjantap Bakso Kipu-Awu anda akan disudutkan pada situasi jang sulit untuk dinegosiasikan ulang.

Menikmati makanan ini ada sematjam perasaan untuk melumat tuntas, di satu sisi jang lain timbul bisikan moral jang menghadang, seakan berudjar lirih “Djaim sedikit kenapa, rakus amat.” Sebagai manusia biasa tentu saja lebih memilih opsi jang pertama. Peduli setan dengan moral djomplang, orang lapar kok disuruh djaga moral.

Akhirul kalam. Sampai di sini dulu saja berbagi tjerita terkait makan memakan, bila ada kata-kata jang kurang berkenan sudilah kiranja kawan-kawan jang baik hati dan budiman untuk menjumbang kritik dan sarannja. Itu djika sampean tidak keberatan dengan bobot tubuh.

Orisinil..

Demikian kiranja tjerita ini saja tulis, atas waktu dan perhatiannja, tidak saja utjapkan terima kasih. Lah ko’ nyimut koe.

Salam.

editor: jon Mukidi

sukadi

Kaji Sukadi

Generasi pesisir Paciran jang tidak soeka maboek laoet, njambi bakoel boekoe Ce-O-De-an

Read More