5 Poin Penting Dari Statistik Final Liga Champions '19

Paciran ❤ Lamongan

Kemenangan heroik Liverpool pada Final Liga Champions mendominasi tajuk berita di hampir semua media daring hingga luring. Beberap statistik luar-biasa tercipta dari helatan pertandingan final hajatan bola antar klub paling bergengsi di dunia tersebut. Menjadi European Champions untuk ke-enam kalinya, menegaskan bahwa The Reds belum berakhir.

Pemain asuhan Jurgen Klopp merengkuh status legendaris di sabtu malam waktu setempat ketika mengalahkan Tottenham di Madrid sembari menutup musim yang luar-biasa. Menjadi malam yang patut diingat sejak final di Istambul, harapan sebagai pembuka jalan untuk kesuksesan yang lebih besar dengan Klopp di pucuk pimpinan pun kembali melambung.

Berikut ini adalah 5 catatan statistik paling menarik dari pertandingan final gak mutu yang akan tetap tercatat dalam buku legenda.

Clinical Origi

Lord Origol

Karir Divock Origi di Liverpool mengalami titik balik yang tak terduga dan hampir tak dapat dipercaya, setelah berbagai rumor mengenai kepindahannya pada akhir musim panas lalu. Alih-alih keluar, pemain berpaspor Belgia itu tetap di Anfield dan malah menyumbang gol penting saat lawan Everton, Newcastle, Barcelona, dan tentu saja, gol pengunci gelar juara.

Origi menutup musim sebagai pemain Liverpool paling berarti dalam laga-laga penting. Menurut analis Andrew Beasley, dia mencetak gol atau asis setiap 84 menit dalam penampilannya yang terbatas di musim ini. Tak ada satupun pemain yang mampu menyamai keganasan Origi, baik itu Mo Salah, Mane atau Firminho sekalipun. Lord Origoal!

Setelah pencapaian-pencapaian luar biasa itu, ada bisik bisik yang menyebar bahwa Orihi bakal ditawari kontrak baru oleh Liverpool, fair, mengingat keputusannya bertahan meskipun tidak menjadi pilihan utama dalam skuad Jurgen Klopp.

Situs analis statistik Infogol, memberikan tembakan Origi nila 4 persen peluang untuk masuk gawang. Asal tahu saja, itu sama dengan akurasi tembakan tendangan bebas Messi pada pertandingan leg pertama di Camp-Nou, akurasi yang luar biasa!

Magic Matip

matip van dijk with champions tropyh

Joel Matip, menjadi salah satu dari deretan pemain yang peruntungannya menjadi lebih baik, setelah mampu mempersembahkan penampilan terbaiknya selama berseragam Liverpool di saat yang tepat, pertandingan penutup puasa gelar!

Setahun lalu, tak sedikit fans yang rela melepas pemain asal Kamerun ini keluar dari Anfield. Tentu sekarang berbeda setelah penampilan gemilangya. Bola dari sentuhan kaki Matip-lah yang membuat Origi menuntaskan kemenangan dengan skor 2-0 di akhir pertandingan di Madrid itu. Yang menjadi asis pertamanya sejak memakai jersey si-merah. Membutuhkan hingga 98 penampilan untuk membuat asis, sebuah waktu yang tepat untuk mengakhiri kemandulan.

Unbeatable Alisson

Alisson with Champions throphy

Masihkan ada yang mempertanyakan keabsahan Alisson sebagai kiper top dunia saat ini, maka dia membuktikan kapasitasnya sebagai kiper terbaik dengan tegas ketika melawan Tottenham.

Di malam ketika tak banyak pemain yang mampu menunjukkan level terbaik mereka, pria berkebangsaan Brazil ini malah menjadi monster, dinding yang tak tertembus. Sebuah penampilan yang paling berpengaruh untuk kemenangan Liverpool. Alisson menjadi kiper pertama yang mampu menjaga gawanhnya tetap perawan sejak 2010. Kala itu Julio Cesar menikmati kejalahan Munich atas Inter yang dibelanya.

Lebih dari itu semua, pria yang berumur 26 tahun itu membuat total delapan penyelamatan sejak awal kompetisi bergulir, sejajar dengan pemain Man United Edwin van der Sar pada 2011, yang kalah 3-1 dari Barcelona.

Setelah “malam-bencana Loris Karius” 12 bulan lampau, sebuah pernyataan yang pas jika kiper Liverpool ini adalah paglawan di pertandingan final kali ini.

Salah Completes the Set

Mosalah Kisses the Ball

Airmata yang menetes deras ketika harus terpingirkan karena cedera pada final melawan Real Madrid musim lalu, adalah hal terberat yang harus disesap oleh Salah. Namun perasaan itu ternafikan di laga final tahun ini, di Madrid! Setahun penuh penyesalan Sang Raja Mesir ini tuntas terbayarkan, menutup kenangan menyebalkan tentang Sergio Ramos dan malam paling menyakitkan bagi seluruh fans The Reds.

Pinalti Mo Salah di menit awal membuka jalan kemenangan Liverpool di Wanda Metropolitano Stadium dan sekaligus menyegel pencapain baru secara individu bagi sang pemain depan. Faktanya, tendangan Salah dari titik putih menghantam pada pada 1 menit 48 detik setelah pertandingan dimulai. Gol tercepat kedua dlama sejarah setelah gol milik Paolo Maldini (50 detik).

Goal pemain sayap Liverpool itupun menahbiskan dirinya menjadi pemain kedua yang selalu mencetak gol di setiap babak dalam helatan Liga Champions: babak grup, 16 besar, perempat final, semi final dan final.

Dilain pihak, Mane adalah pemain yang juga menikmati pencapaian perorangan yang juga merasakan hal yang sama. Dia melakukannya spanjang musing 17/18, yang artinya lebih impresif ketimbang pencapaian salah.

Sloppy Reds… But Who Cares?

Setelah semisim penuh momen fantastis, performa yang medominasi, Liverpool sebenarnya bermain dengan sangat buruk kalau tidak boleh dikatakan sebagai yang paling parah ketika melakoni partai final Liga Champions.

Atmosfer yang membara di Madrid seharusnya menyuguhkan petandingan yang habis-habisan, menguras emosi pendukung kedua tim, dan jual beli serangan yang tak berkesudahan. Tapi apa lacur, harapan itu tak terwujud dari kedua tim, tidak dari Liverpool. Setidaknya, Spurs sudah berusaha di menit-menit akhir babak kedua.

Coba perhatikan statistik akurasi umpan pasukan Klopp yang cuma menyentuh angka 64.34 persen, bandingkan dengan akurasi tim asuhan Pochetini yang mencapai 80 persen. Akurasi umpan Liverpool musim ini rata-rata berkisar di angka 79.91 persen, menunjukkan betapa ngawurnya umpan-umpan yang dilancarkan mengingat operan-operan yang sporadis.

Anehnya, di tengah kinerja tim yang bobrok, Gini Wijnaldum malah mampu menyelesaikan operan dengan tingkat keberhasilan 100 persen. Tapi tetapi dengan hanya 12 operan dalam 60 menit di lapangan, tak ada pengaruh signifikan. Menunjukkan betapa rendahnya kinerja lini tengah Liverpool

Six Times

Terlepas dari betapa belum pernah ada tim-tim lain yang mampu memenangi gelar jawara Liga Champions dengan permainan sejelek itu. Terlebih penting dari itu semua, Liverpool mampu memenangi pertarungan, merebut kemenangan dan membawa pulang Si Kuping besar keenam kalinya, itu yang paling penting. Tak ada hal lain yang memuaskan hati para Kopites selain mengakhiri puasa gelar!

Pokok-e riyoyo, YNWA

mukidi

Jon Mukidi

GaPenting, buronan para penagih hutang, reskrim, camer, hingga homo keparat yg keponya kebangetan.

Read More